About US

Vihara Dharma Ratna dipersembahkan kepada Sangha Theravada Indonesia pada tanggal 24 Maret 2002, bertepatan dengan hari jadi Vihara Dharma Ratna yang kesepuluh. Vihara Dharma Ratna turut berkontribusi dalam pengembangan Ajaran Buddha dengan menjadikan vihara ini sebagai tempat tinggal para bhikkhu dengan pembinaan langsung dari Sangha Theravada Indonesia. Penyerahan Vihara Dharma Ratna dilakukan oleh Bapak Suryadi Mansyur, atas nama pendiri Vihara Dharma Ratna dan didukung oleh seluruh pengurus (Dayaka Sabha), para donatur, serta seluruh umat Vihara Dharma Ratna dan diterima oleh Y M. Bhikkhu Dhammasubho Thera, Sanghanayaka Sangha Theravada Indonesia. Kilas Balik Berdirinya Vihara Dharma Ratna Cetiya Dharma Ratna, Jurumudi, Tangerang, didirikan pada tahun 1992, atas prakarsa dari Bapak Suryadi Mansyur. Pada tanggal 24 Maret 1992 puja bakti pertama dimulai, bertempat di rumah beliau dengan mengundang para umat Budhha sekitarnya. Nama “CETIYA DHARMA RATNA “ diberikan oleh Romo O. Wangulimala yang hadir pada saat pembukaan cetiya yang mengandung arti “PERMATA DHARMA.” Beberapa lama kemudian Cetiya Dharma Ratna berpindah ke rumah Bapak Tan Cin Wie, walau tampak sederhana tapi sudah cukup layak untuk sebuah cetiya karena ruangan ini sepenuhnya digunakan untuk kegiatan puja bakti. Bagunan yang semula untuk ruang dapur, karena sudah tak digunakan lagi maka umat diizinkan untuk memakai tempat ini sampai dapat membangun cetiya sendiri. Puja bakti dilakukan setiap hari Rabu malam, dengan kapasitas ruangan kurang dari 50 orang, umat yang hadir lebih banyak kaum ibu dan muda-mudi. Dhammadesana disampaikan oleh Dhamma Duta dari Jakarta dan Tangerang.

Puja Bakti tahun 1992

Mereka pun tidak bisa setiap minggu hadir, terkadang satu bulan hanya satu kali. Setelah dua tahun berjalan, umat baru dapat mendengarkan Dhammadesana dari seorang bhikkhu yang diundang atas bantuan umat dari Vihara Saddhapala, Cengkareng. Walau demikian tak menyurutkan semangat umat Buddha di sini untuk terus belajar Dhamma. Hari raya Waisak merupakan satu-satunya hari raya besar yang selalu dirayakan di Cetiya Dharma Ratna. Umat yang datang pun lebih banyak dari hari biasa.Walau ini perayaan penting sering tanpa dihadiri oleh pandita atau bhikkhu, semua dilakukan sendiri oleh umat. Karena banyaknya umat yang hadir, perayaan Waisak diadakan di lapangan yang berada di sebelah cetiya. Gelapnya malam dapat teratasi oleh cahaya lilin yang dipasang sejak awal dan dipakai untuk upacara pradaksina mengelilingi altar.

Vdr tahun 1995

Sementara untuk pengeras suara dipinjam dari gereja yang terletak tidak jauh dari cetiya. Antara pengurus gereja dan cetiya memang saling mengenal baik, karena beberapa pendiri Cetiya Dharma Ratna pernah aktif di sana. Waktu terus berjalan dan umat pun semakin bertambah, seiring dengan itu diperlukan satu tempat puja bakti yang lebih memadai. Dari sini Bapak Suryadi Mansyur memberikan sebagian tanah miliknya untuk dibangun sebuah cetiya yang lebih baik.Tepatnya pada tahun 1994 rencana ini tercetus, maka untuk keperluan pembangunan dibentuklah badan hukum berupa yayasan dan lahirlah Yayasan Dharma Ratna pada 25 Juni 1994 dengan notaris Sumartini Handjojo, SH. Pada awal tahun 1995 Cetiya Dharma Ratna dimulai pembangunannya,

VDR tahun 2009

peletakan batu pertama dilakukan oleh Y. M. Bhikkhu Subbhapannyo(15/1) sekaligus menandai perubahan dari Cetiya Dharma Ratna menjadi Vihara Dharma Ratna. Walau hanya satu bangunan Dhammasala sederhana tapi para umat sudah cukup berbahagia telah mempunyai tempat yang khusus untuk kegiatan puja bakti. Untuk tetap melestarikan keberadaan Vihara Dharma Ratna dan mengingat para pendiri yang mulai mempunyai kesibukan masing-masing, maka pada tahun 1997 tercetus ide menghibahkan vihara kepada satu lembaga yang dapat menaungi Vihara Dharma Ratna. Dari hasil kesepakatan bersama maka dipilihlah Sangha Theravada Indonesia untuk membina Vihara Dharma Ratna dan Bapak Felix W. Winarta berkenan membantu proses ini. Persiapan pun mulai dilakukan untuk mewujudkan rencana ini, memang bukan hal mudah karena Vihara Dharma Ratna masih mempunyai beban yang cukup berat. Salah satunya harus melunasi sisa pembayaran tanah. Tanah seluas 571 meter persegi milik Bapak Suryadi M dan beliau telah mendanakan sebagiannya, namun sebagian lagi sudah seharusnya dilunasi sebelum dihibahkan. Atas sumbangsih dari Bapak Jap Khong Lie maka rencana tersebut dapat terwujud. Rencana ini baru dapat direalisasikan pada tahun 2002, Vihara Dharma Ratna secara resmi dipersembahkan kepada Sangha Theravada Indonesia pada tanggal 24 Maret 2002 atas bimbingan dan arahan dari Y. M.Bhikkhu Dhammakaro. Dan selanjutnya Sangha Theravada Indonesia merekomendasikan Y.M.Bhikkhu Dhammakaro menjadi kepala vihara pada 7 Juni 2003. Untuk keperluan pembinaan langsung dari Sangha Theravada Indonesia maka akan diutus satu orang bhikkhu dan menetap di Vihara Dharma Ratna.

Dengan sekuat tenaga para pengurus berhasil membangun sebuah Kuti bhikkhu dan diresmikan pada tanggal 2 November 2003 oleh Y.M. Bhikkhu Dhammasubho Thera. Pada hari yang sama, Y.M. Bhikkhu Abhayanando secara resmi membina umat Vihara Dharma Ratna dan menetap di sini. Vihara Dharma Ratna mempunyai prospek yang cukup baik untuk terus berkembang karena berada di lokasi yang strategis yaitu di perbatasan antara Kota Tangerang dan Jakarta Barat, dikelilingi oleh kompleks perumahan, tidak jauh dari Bandara Soekarno-Hatta, dan dibina langsung oleh Sangha Theravada Indonesia. Terbukti pertumbuhan jumlah umat yang terus meningkat setiap tahun. Untuk keperluan di atas maka diperlukan pembenahan sarana dan prasarana agar lebih memadai. Di bawah pembinaan YM. Bhikkhu Abhayanando yang kini menjadi Kepala Vihara Dharma Ratna sejak tahun 2004, dan dibantu oleh seluruh pengurus serta para donatur, Vihara Dharma Ratna secara berangsur dapat membangun Gedung Sekolah Minggu dan menambah perluasan lahan. Saat ini, umat Vihara Dharma Ratna sudah mencapai sedikitnya 150 umat, maka sangat membutuhkan ruang Dhammasala yang lebih luas serta penambahan jumlah Kuti Bhikkhu yang lebih banyak untuk mendukung para anggota Sangha Theravada Indonesia melakukan pembinaan ke berbagai tempat. Semoga cita-cita di atas dapat segera terwujud. Mari kita satukan tekad dan pengabdian kepada kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha demi pembabaran Buddha Sasana.