Suatu Hari di Lampu Merah

Citta Suni

"Hari ini makan apa?” “Ada telor ceplok sama kecap, ambil saja di meja makan...” “Huh, telor ceplok lagi“, dengus bocah yang masih menggunakan seragam merah putih yang sudah lusuh. Pertanda baru pulang sekolah. “Saya pergi Bu”, Lanjutnya sambil mengganti kaos oblong yang tidak kalah lusuhnya sambil berjalan gontai keluar rumah, tidak lupa ia membungkus nasi dan telur ceplok yang sudah disiapkan untuknya. Setidaknya bocah itu berpikir tidak ingin kelaparan seharian ini.

“Kalau mau pakai kerupuk minta saja ke warung sebelah, besok baru ibu bayar.” “Cih, kerupuk saja menghutang... Lebih baik makan dengan garam”, Umpatnya tidak membalas kata-kata ibu paruh baya yang berteriak kepadanya. Jakarta, Jakarta, dan Jakarta... Siapa yang tidak kenal dengan kota metropolitan ini. Kota yang penuh dengan kemewahan, segala sesuatunya telah tersedia di kota ini, meskipun begitu, kota ini memilih. Hidup di kota Jakarta tidak semudah yang dibayangkan, kota mewah ini tidak akan membiarkan mereka yang lusuh dan kumuh masuk ke dalam tempat-tempat yang bagus dan megah. Di sinilah tempat bagi mereka yang kumuh dan lusuh, di pinggiran jalan, kolong jembatan, tempat pembuangan sampah... Tempat semacam itu, sudah tidak terasa asing lagi untuk mereka.

Tempat yang dianggap menjijikkan, sebagai tempat pembuangan sampah, dan kotor serta kumuh tersebut, bagi mereka, justru tempat-tempat seperti itulah sebuah kota Jakarta bagi mereka. Mereka yang ingin menghidupi kehidupan mereka sehari-hari harus rela berada di tempat seperti itu, entah dengan cara mengumpulkan sampah, berdagang asongan, bahkan mengemis sekalipun. Pekerjaan yang sangat mudah dilakukan orang kalangan manapun, hanya butuh kertas koran bekas sebagai alas duduk dan tangan yang mengadah dipadukan dengan wajah yang terlihat belum makan beberapa hari. Tetapi beda dengan bocah SD tadi. Ia memilih jalan hidupnya sendiri. Lebih baik berjualan asongan dengan barang seadanya daripada mengemis, tidak ada usaha sama sekali... Pikirnya, berbekal dari sekolah yang mengajarkan kepada seluruh siswa-siswinya agar tidak menanamkan rasa malas sejak dini.

“Hai, Ucrit... Kemarilah, kau...!” “Ya, Bah, hari ini apa yang bisa saya jual Bah?” “Ini jatah untuk kau, siapa suruh hari ini kau datang terlambat... Kau hanya punya 5 botol air minum kemasan untuk dijual hari ini...” “Iya, Bah, gak papa...” “Dasar kau ini, cepat sana kerja! Nanti keburu maghrib...” Tanpa babibu dari bocah itu, dengan gesit ia menuju lampu merah di mana ia berjualan biasanya... Seperti pekerja yang sudah handal, ia memulai aksinya berjualan dengan berteriak untuk menarik perhatian para pembeli. Tapi hari ini berbeda... Bocah tersebut terdiam beberapa saat. Siapa kakek tua yang mencuri pangkalannya hari ini?? Pikir bocah tersebut dengan perasaan yang kesal. “Hai, kakek tua... Sedang apa di sini ? Ini tempat saya ... Jangan menyela dong... Yang lebih tua dan dewasa harusnya kan lebih tahu itu...” “....”

Tidak ada jawaban dari si kakek yang dengan santainya masih berdiri di pinggir jalan sambil memamerkan dagangannya. “Kakek!! Sedang apa di sini!!!” Bocah tersebut mulai berteriak dan marah. “Oh..., Hai bocah... Kau sedang apa di sini...?” “Matilah aku, ternyata kakek tua ini sudah budek...capek-capek kuteriaki dia ternyata tidak ada gunanya...”, Umpatnya dalam hati. Kemudian bocah itu menghampiri sang kakek dan mencoba bicara secara perlahan agar sang kakek tersebut mendengar dan mengerti apa yang hendak disampaikannya. “Begini kakek tua... Lampu merah ini pangkalan sehari-hari saya berjualan... Kenapa kakek hari ini berada di sini? Sama saja dengan kakek menyelang saya hari ini...” “Ya, Nak, saya tahu... Saya tahu biasanya kamu berjualan di sini... Tapi hari ini saya tunggu-tunggu kamu tidak datang, Nak, jadi saya pikir kau tidak berdagang hari ini...” Bocah tersebut bingung. Kakek tua tersebut tahu kalau ia berjualan di sini, darimana ia mengetahuinya?

“Ya,... saya memang datang terlambat hari ini karena saya memiliki pelajaran tambahan tadi di sekolah, kakek tahu darimana saya berjualan di sini, Kek?” “Hahaha bocah, bocah... Berapa usiamu, Nak? 7 tahun? 9 tahun? Saya hampir menghabiskan masa hidup saya di lampu merah ini, Nak... Apa bekal makan siang mu hari ini, Nak? Telor ceplok lagikah?” “Whoaaa! Kakek ini punya ilmu sihir... Bahkan ia tahu bekal yang setiap hari kubawa ke pangkalan”, Gumam bocah itu dalam hati. “Jangan takut, Nak, kakek tidak pake guna-guna untuk tahu semua itu... Kemari, kita duduk dan mengobrol sebentar... Kakek juga ingin istirahat...” “Tapii....” Bocah tersebut berpikir sejenak, ia teringat akan seuntai kata terakhir yang diucapkan abah pemilik pedagang asongan yang memberikannya 5 botol air minum kemasan tadi, yaitu agar ia bergegas menjual semua air minum kemasan miliknya sebelum maghrib menjemputnya pulang. Tapi ia mengabaikannya, ia lebih tertarik dengan kakek tua berantakan, kotor, dan sangat usang itu... Entah berapa lama kakek tua lusuh itu tidak mandi. Setidaknya itu yang pertama ada di benak bocah tersebut.

“Jadi, darimana kakek tahu kalau saya berjualan di sini...Yang saya tahu... Sejak saya berjualan di sini saya tidak pernah melihat ada pedagang asongan lain di sini, Kek...” “Hahaha, dasar kau memang masih bocah, tadi kakek sudah bilang, saya hampir menghabiskan masa hidup saya di pangkalan ini, Nak... Coba, hanya menebaknya... Berapakah kira-kira usia saya?” “Hmmm....kalau melihat dari rambut dan janggut kakek...70 ?” “Hmm...Boleh juga tebakanmu bocah...” “Hah,...jadi kakek menghabiskan 70 tahun di lampu merah ini, begitu Kek?” Bocah tersebut terbelalak kaget. “Tentu saja tidak... Kakek mulai berjualan sekitar usia 10 tahun, jadi kemungkinan 60 tahun kakek sudah bersahabat akrab dengan si lampu merah...” “Wah, itu bukan waktu yang singkat Kek, tapi...Kenapa saya tidak pernah melihat kakek sebelumnya di sini ?” “Itu karena saya tidak ingin menyelang bagianmu bocah... Saya melihat usaha kerasmu dari awal kau bertemu dengan preman yang memberikanmu botol air minum kemasan itu nak...” “Oh, si abah... Dia memang terkenal preman, tapi beruntunglah saya, karena dia mau memberikan beberapa dagangannya untuk saya bantu jual...”

Ada keheningan sesaat, si bocah memutuskan untuk meninggalkan kakek tua itu... Untuk apa ia bergaul dengan seorang kakek tua yang bahkan tidak jelas asal usulnya... Tapi suara serak kakek tua yang tiba-tiba bersuara itu mengurungkan niatnya. “Bocah, kau tahu hidupmu itu jauh lebih baik daripada saya...” “Tahu darimana kau Kek, kita saja baru bertemu hari ini.... Asal kakek tahu saja saya makan dengan telor ceplok setiap hari, kalau tidak ada telur, ibu mengambil sayur-sayuran sejadinya yang ada di kebun belakang rumah kami... Untung saja sayuran tersebut bukan tanaman beracun dan semacamnya...”

“Hai! Kata-kata macam apa itu... Seharusnya kau merasa beruntung masih bisa makan pagi, siang, sore... Kalau kakek, satu hari bisa makan saja sudah bagus...” “Satu hari sekali kKek? Apa tidak lapar Kek?” “Tentu saja lapar...!! Tapi kakek lebih tidak tega kalau harus melihat anak dan cucu kakek yang kelaparan, mereka tidak seharusnya ikut merasakan kelaparan seperti kakek, mereka punya nasibnya masing-masing...”

“Wah, kalau begitu telor ceplok dan sayur jadi-jadian ibuku jauh lebih baik ya, Kek !” “Tentu saja bocah, ketahuilah nak,... Mungkin sekarang kau tidak mengerti, tapi nanti... Setelah kau besar kau pasti mengerti... Tidak ada yang tahu masa depan seperti apa, bahkan penyihir, dukun, peramal tingkat apapun itu... Karena masa depan selalu berubah-ubah dan tidak pasti... Tapi ada satu hal yang membuatmu dapat menikmati masa depan yang tidak pasti itu dalam manis-pahitnya hidup... Jalani saja dengan perasaan selalu bahagia dan selalu menyadari segala sesuatunya, biarkan hidup ini mengalir seperti air...”

“Kek, apakah kau sedang membacakan sebuah puisi untukku?” “HAHAHA... Dasar kau bocah, benar saja yang kukatakan, kau pasti tidak mengerti apa yang kukatakan...” “Beruntunglah cucumu Kek, memiliki seorang kakek yang dapat memberikan nasihat... Orang tuaku, mereka selalu saja sibuk bekerja, dan almarhum kakekku pergi tanpa pernah kulihat dia sekalipun...” “Kemari sajalah nak sebelum waktu berdagangmu tiba, maka akan kuceritakan semua pengalaman-pengalaman hidup yang pernah kakek alami....” “Betulkah boleh begitu, Kek ?”

“Ya, tentu saja bocah... Apa gunanya memiliki pengalaman tapi hanya kusimpan sendiri... Bukankah lebih berguna jika kubagikan ke orang lain...hahaha” “Baiklah Kek, sebagai gantinya... Mungkin kau tidak akan makan sehari sekali lagi Kek, aku akan membawa bekal siangku kemari setiap hari untuk kita makan berdua... Setidaknya dua kali makan dalam sehari tidak akan membuatmu terlalu lapar...” Tampak sang bocah sibuk membuka bungkusan kertas berisikan nasi dan sebuah telor ceplok dengan kecap, memang sangat sederhana... Tapi ia merasa amat beruntung setelah mendengar cerita si kakek kalau ia masih bisa makan setidaknya... Mereka berdua makan dengan lahap sesekali dengan canda dan tawa yang tersungging dari mereka. Begitulah seterusnya... Setiap pulang sekolah, si bocah tersebut tetap datang ke pangkalan dan mendengar nasihat-nasihat dari si kakek sambil berjualan bersama dan menikmati manis-pahitnya hidup.