SEMANGAT DI SETIAP LANGKAH

Y.M. Bhikkhu Abhayanando, Thera

Walaupun seseorang masih muda dan kuat, namun apabila ia malas dan tidak mau berjuang semasa harus berjuang, serta berpikiran lamban, maka orang yang malas dan lamban seperti itu tidak akan menemukan jalan yang mengantarnya pada kebijaksanaan.
(Magga Vagga Bab XX-280)

Harapan
Setiap orang mempunyai harapan dalam kehidupan ini. Harapan untuk dapat hidup damai, tenteram, sukses, bahagia, sejahtera, dan segala harapan baik lainnya. Harapan-harapan baik jika terpenuhi tentunya akan membuat orang yang mempunyai harapan itu bahagia dan bahkan terkadang larut dalam kebahagiaan. Apakah harapan baik tersebut dapat dicapai oleh semua orang? Jawabannya, bisa iya dan juga bisa tidak. Kenapa? Karena untuk meraih harapan baik itu juga tidak mudah dan terkadang harus berhadapan dengan kesulitan. Proses yang dilalui untuk mendapatkan harapan baik terkadang mudah tapi juga terkadang rumit.

Bagi mereka yang dapat meraih harapan yang sudah dinantikan tentu akan bahagia. Kehidupannya akan terasa indah dan menyenangkan. Sebaliknya bagi mereka yang tidak memperoleh harapan baik tersebut tentu hidupnya menjadi terasa hambar, suram dan bahkan di antara mereka ada yang tidak percaya diri dan bahkan putus asa.

Hidupnya seperti terasa hancur dan merasa kehidupannya tidak berguna. Semua orang boleh berharap hidupnya sejahtera, bahagia, sukses dan sebagainya, hanya saja mereka juga harus memahami bahwa apa yang mereka harapkan belum tentu tercapai. Sikap mental seperti ini yang terkadang tidak mereka miliki sehingga harus kecewa saat harapan tidak tercapai dan takabur bagi mereka yang mendapatkan harapan baik tersebut.

Realita tidak selalu sama dengan angan-angan. Realita terkadang pahit untuk diterima. Namun itulah fakta kehidupan. Apa yang menjadi harapan belum tentu dapat diraih. Demikian sebaliknya apa yang tidak diharapkan terkadang muncul begitu saja. Harapan memang terkadang tinggal harapan dan sepertinya hanya mimpi. Boleh saja kita berharap banyak dengan kehidupan ini tapi kita juga harus ingat bahwa kehidupan belum tentu memberikan banyak seperti apa yang kita harapkan.

Kegalauan Melanda
Suatu hari ada orang bercerita tentang masalah yang sedang dihadapi. Singkat cerita, orang tersebut merasa kehidupan ini tidak adil. Yang dimaksud tidak adil bagi orang tersebut adalah ketika dia sudah berbuat baik, dan kebajikan itu terus dilakukan tapi kenyataannya dia harus berhadapan dengan kesulitan. Lebih lanjut orang tersebut bercerita, kalau kesulitan itu hanya satu kali atau dua kali masih bisa dipahami. Hanya saja kesulitan yang dihadapi itu berulang-ulang. Faktor itulah yang kemudian membuat orang tersebut kecewa dengan kebajikan yang sudah dilakukan dan merasa kehidupan ini tidak adil bagi dia.

Saya kemudian memberikan motivasi dan pengertian kepada orang tersebut, walau untuk memahami apa yang saya sampaikan membutuhkan waktu yang cukup lama. Saya memaklumi apa yang orang tersebut rasakan, tentunya butuh tahapan untuk memahami masalah dan mencari solusi dari masalah yang sedang dihadapi.

Yang penting bagi saya, orang tersebut mau memahami, walau untuk memahami itu tidak mudah. Setelah memahami baru ada langkah-langkah berikutnya hingga orang tersebut kembali memiliki semangat hidup. Kisah seperti itu bukan hanya dialami oleh orang tersebut saja, banyak kisah tentang orang yang harus berhadapan dengan kesulitan berulang-ulang padahal orang tersebut merasa sudah melakukan yang terbaik dalam kehidupannya. Bukan hal yang mudah menghadapi situasi dan kondisi seperti itu. Bisa saja orang berkata bahwa badai pasti berlalu, tidak kekal, anicca dan sebagainya untuk memotivasi orang lain. Kalau orang yang berkata tersebut dalam situasi yang sama walau masalahnya berbeda belum tentu dapat berkata badai pasti berlalu, tidak kekal, anicca, dan sebagainya.Kondisi batin yang dilanda kegalauan seperti itu menimbulkan kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan bahkan terkadang menjadi tidak percaya diri serta putus asa menghadapi kehidupan ini. Kalau dibiarkan, menjadi berbahaya untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang lain.

Dalam kondisi seperti itu orang dapat melakukan hal yang tidak baik. Rasa tidak percaya diri dan putus asa dapat saja muncul sewaktu-waktu dan menjadi bumerang bagi orang tersebut. Masalah yang dihadapi bukannya selesai tapi malah bertambah pelik. Kadang orang mudah berontak, mengeluh, dan menyalahkan kehidupan ini karena merasa tidak adil terhadap dirinya. Umpatan, kata-kata negatif terhadap kehidupan ini tidak menyelesaikan persoalan dan justru malah menambah persoalan kehidupan. Oleh karena itu kegalauan batin harus segera diobati dengan menumbuhkan sikap mental positif terhadap kehidupan ini. Semua itu dapat tumbuh dan berkembang ketika latihan dilakukan secara rutin dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang mengalami kegalauan batin harus berupaya untuk menumbuhkan batin yang sehat, dewasa, dan bijak. Seiring dengan melatih batin maka batin pun akan bebas dari kegalauan.

Menumbuhkan Semangat
Ada yang mengatakan hidup ini sulit. Ada juga yang mengatakan berjuang itu tidak mudah. Ada juga yang mengatakan kebaikan itu tidak ada dampaknya, orang ini mengatakan seperti itu karena terus-menerus dihadapkan dengan kesulitan padahal sudah melakukan kebajikan. Jadi seolah-olah kebajikan itu tidak bermanfaat. Masih banyak kalimat-kalimat yang bernada negatif tentang kehidupan ini.

Tidak semestinya kalimat itu muncul jika kita dapat menggunakan akal sehat dan pikiran positif untuk melihat proses dalam kehidupan ini. Menyadari bahwa proses kehidupan ini bukan hanya yang menyenangkan saja tapi kita juga harus tahu bahwa suatu hari dapat bertemu dengan hal yang tidak menyenangkan. Artinya ada manisnya kehidupan dan juga ada pahitnya kehidupan. Dua sisi kehidupan yang harus dilihat objektif. Bukan sekedar hanya mengharapkan yang menyenangkan saja dan kemudian menolak hal yang tidak menyenangkan.

Penyakit yang sering kali melanda diri manusia adalah selalu subjektif melihat kehidupan ini. Melihat kehidupan ini sesuai kepentingan dirinya sendiri. Mereka hanya berharap hal yang menyenangkan saja dan menolak keras hal yang tidak menyenangkan. Pandangan seperti itu sangat salah dan justru akan menjerumuskan orang tersebut dalam kehidupan yang lebih menderita.

Kita tidak mungkin mengubah dunia ini sekehendak kita. Yang dapat kita lakukan adalah mengubah cara berpikir kita melihat kehidupan ini. Cara pandang yang subjektif menjadi objektif artinya melihat hidup ini sebagaimana mestinya. Hidup ini harus realistis, kehidupan ini bukan hanya manisnya saja tapi terkadang juga bertemu dengan pahitnya, sekalipun tidak menyukainya. Pandangan realistis inilah yang akan mengubah cara pandang manusia terhadap kehidupan ini. Dengan cara pandang yang bijak, manusia akan mampu mengatasi segala problem yang berkaitan tentang kehidupan ini.

Tiada guna berontak atau mengeluhkan apa yang sudah dialami karena apa yang dialami adalah sebuah proses untuk mendewasakan batin sehingga lebih bijak melihat proses kehidupan ini. Apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini seperti kisah yang telah diulas atau mungkin kisah sahabat, orang di lingkungan kita dan mungkin diri kita sendiri adalah sebuah perjalanan untuk mendapatkan harapan yang lebih baik. Semua itu adalah proses menuju pada pengharapan yang baik sekalipun tidak mudah dilalui.

Orang terkadang hanya melihat hasil tanpa melihat prosesnya. Maunya instan dan segera memiliki harapan tersebut, akhirnya kecewa dalam perjalanannya menggapai harapan. Dhamma mengajak kita untuk dewasa melihat proses kehidupan ini. Dhamma adalah sumber inspirasi dalam segala hal termasuk ketika kita harus berhadapan dengan kekecewaan, tidak percaya diri dan putus asa menghadapi kehidupan ini. Salah satu Dhamma yang harus kita munculkan adalah “Viriya”. Viriya memiliki arti semangat.

Semangat yang di dalamnya mengandung makna ketekunan, keuletan dan kesabaran. Bukan sekedar semangat yang berapi-api tapi kemudian padam begitu saja. Viriya atau semangat akan mencambuk bagi mereka yang lelah, capai, malas, tidak percaya diri dan putus asa menghadapi kehidupan ini.

Semangat dapat muncul ketika kembali pada tujuan awal perjuangan hidup. Tujuan hidup adalah bagaimana dapat bahagia. Untuk dapat bahagia seseorang harus memiliki semangat dalam berjuang, bekerja, melakukan perjalanan sampai kemudian mendapatkan harapan. Ibarat seorang pendaki yang mau naik gunung harus ada semangat di setiap langkahnya. Ketika keraguan, kebimbangan dan beban ada di setiap langkah pendaki, maka sampai kapanpun pendaki itu tidak sampai puncak. Seorang pendaki sudah tahu risiko perjalanan dan dampak yang akan terjadi di setiap perjalanan. Hanya pendaki ulung yang di setiap langkahnya ada semangat dan tanpa terbebani, dapat menuntaskan perjalanan hingga akhirnya menuju puncak.

Gambaran tentang seorang pendaki tersebut sesungguhnya mencerminkan tentang kehidupan ini. Kehidupan ini sudah tentu akan berhadapan dengan kesulitan dan itu adalah risiko ketika keberadaan kita masih terus berada di lingkaran samsara ini. Masalah kehidupan akan terus dihadapi dan manusia tidak dapat lari dari hal tersebut. Saya selalu mengatakan, sesulit apapun kehidupan ini seharusnya kita tetap bertahan dan ada kemauan untuk menghadapinya dengan bijak. Berontak, mengeluh dan sebagainya hanya akan menjauhkan seseorang dari kebahagiaan hidup.

Hidup harus selalu semangat. Semangat akan mengantarkan kita pada harapan yang baik. Nyalakan terus api semangat di dalam diri agar tidak pudar apalagi padam dalam perjalanan menggapai harapan. Di setiap langkah harus ada semangat agar beban menjadi ringan dan langkah pun semakin mantap, terarah menuju apa yang menjadi harapan semua orang yaitu hidup sukses, sejahtera dan bahagia. Dhamma adalah inspirasi dalam segala hal termasuk di dalamnya ada semangat yang akan membuat seseorang tidak gentar menghadapi proses kehidupan yang sulit ini. Semangat dan terus bersemangat dalam segala hal agar menemukan harapan yang baik dan indahnya kehidupan.