Meminimalisir Pola Hidup Konsumtif dengan Memahami Jalan Mulia Berunsur Delapan

Y.M. Bhikkhu Candakaro, Mahathera

PENDAHULUAN
Manusia mempunyai berbagai kebutuhan untuk menunjang kelangsungan hidup. Kebutuhan manusia dibagi menjadi dua yaitu kebutuhan pokok atau primer dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan pokok manusia antara lain makan, pakaian, dan tempat tinggal. Manusia berusaha memenuhi kebutuhan tersebut dengan segala upaya yang dimiliki. Ketika kebutuhan pokok telah dapat dipenuhi, manusia berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lain, utamanya yang menyangkut dengan kebutuhan sosialisasi, kenyamanan kehidupan, ataupun kepuasan pribadi yang disebut kebutuhan sekunder. Kebutuhan sekunder antara lain media komunikasi, transportasi, rekreasi, dan lain-lain. Kebahagiaan dapat timbul jika manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan. Manusia akan melakukan usaha agar dapat memenuhi kebutuhan.

Usaha yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor fisiologis dan faktor psikologis. Faktor fisiologis antara lain kebutuhan akan udara, makanan, cairan, istirahat. Faktor psikologis menunjukkan suatu rasa aman, keseimbangan mental, ketenangan jiwa, kepuasan diri, dan harga diri. Pernyataan ini sejalan dengan teori kebutuhan menurut Maslow. Lima tingkatan kebutuhan menurut Maslow yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan keselamatan dan keamanan, kebutuhan rasa kemasyarakatan, rasa ingin dihargai, dan kebutuhan untuk mengembangkan diri. Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak bisa hidup tanpa ada orang lain, ia sangat memerlukan bantuan manusia lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hubungan sosial dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut mengakibatkan adanya pihak yang disebut produsen dan konsumen. Konsumen membutuhkan barang-barang yang diproduksi oleh produsen. Produsen memerlukan konsumen agar barang-barang yang dijual dapat laku dan menghasilkan keuntungan. Pada dasarnya kebutuhan sekunder akan dipenuhi setelah kebutuhan primer terpenuhi.

Seiring berkembangnya zaman, berkembang pula kebutuhan-kebutuhan manusia. Kondisi yang sekarang terjadi adalah segala sesuatu dikemas dan dijual. Produsen menciptakan barang-barang yang membuat konsumen merasa tertarik dan tergantung pada barang tersebut dengan satu tujuan yaitu mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Sementara, konsumen tergantung kepada produsen karena kecenderungan alami manusia adalah mendapat pengakuan dari lingkungan di mana mereka tinggal. Di tengah masyarakat yang materialistik, eksistensi atau kesuksesan orang diukur dari hal-hal yang bersifat materi, tidak hanya hal-hal yang bersifat primer (Kompas, 06 Agustus 2008). Kecenderungan mendapat pengakuan dari masyarakat tersebut dapat menimbulkan pola hidup konsumtif. Manusia tidak lagi mempertimbangkan kegunaan dari barang-barang yang dibeli, tetapi lebih sebagai pemuasan keinginan dan pengakuan dari masyarakat. Perilaku konsumtif adalah perilaku berkonsumsi yang boros dan berlebihan, yang lebih mendahulukan keinginan daripada kebutuhan, serta tidak ada skala prioritas.

Kebutuhan manusia tidak memiliki standar khusus bagaimana kebutuhan tersebut dapat dikatakan telah dicukupi. Setiap manusia memiliki kepuasan masing-masing dalam memenuhi kebutuhan. Hal yang dapat dijadikan kepuasan adalah bahwa manusia telah memenuhi keinginan. Pemuasan keinginan menurut Adam Smith (Velasquez, 2005:174), pencetus teori ekonomi modern adalah dengan membeli barang yang diinginkan. Teori ekonomi tersebut bertentangan dengan ajaran Buddha Gotama dalam Dhammacakkapavatana Sutta bahwa keinginan dan keserakahan tidak akan terpuaskan, melainkan akan menimbulkan penderitaan. “Pola hidup konsumtif berakar dari keserakahan, satu dari tiga racun yang menyebabkan kesengsaraan di dunia” (Kompas, 29 Januari 2007). Pola hidup konsumtif menimbulkan dampak bagi individu dan lingkungan. Dampak terhadap individu antara lain terhadap faktor kesehatan. Hidup dalam lingkungan yang konsumtif membuat orang tidak lagi mementingkan kesehatan.

Dampak lain terhadap individu adalah gaya hidup konsumtif mempertajam kesenjangan dan menimbulkan kecemburuan sosial yang dapat mengakibatkan tindakan kriminal yang dilakukan oleh orang yang hanya menjadi penonton (Kompas, 06 Agustus 2008). Menurut Stephanie Kaza (2000:24) pola hidup konsumtif mengakibatkan kerusakan lingkungan, antara lain: kerusakan suatu habitat, hilangnya spesies, menipisnya air bersih dan minyak bumi, serta perubahan iklim secara global. Pernyataan tersebut disetujui oleh Worldwatch Institute, bahwa industri modern yang dianggap memberikan kemakmuran material mengakibatkan kenaikan suhu, penurunan tabel air, penyusutan hutan, dan punahnya sejumlah spesies hewan dan tanaman. Pola hidup konsumtif memiliki sejumlah pengertian. Secara umum pola hidup konsumtif merupakan perilaku konsumsi berlebihan, lebih mengutamakan keinginan daripada kebutuhan, tidak adanya skala prioritas atau dapat berarti gaya hidup yang bermewah-mewah.

Buddhisme memandang bahwa pola hidup konsumtif adalah pola konsumsi yang salah, yaitu pola hidup yang didasarkan pada tanha. Kebahagiaan tidak didapat dengan mengkonsumsi barang secara berlebihan. Konsumsi merupakan cara untuk mencapai kesejahteraan, tujuan sebenarnya ialah mencapai kesejahteraan setinggi mungkin dengan konsumsi sesedikit mungkin. Tetapi Buddhisme adalah ”Jalan tengah” karena itu tidak menolak kesejahteraan jasmani. Bukan harta kekayaan yang merupakan penghalang untuk mencapai pembebasan (tujuan tertinggi Buddhis), tetapi kemelekatan terhadap kekayaan itulah yang membuat orang serakah untuk menikmati komoditi yang menjadi miliknya secara berlebih-lebihan. Ciri-ciri orang yang berpola hidup konsumtif adalah menggunakan waktu senggang untuk menghabiskan uang. Waktu senggang dapat diisi dengan belanja, melihat pertunjukan atau liburan ke suatu tempat yang dirasa menarik dan menyenangkan.

Ciri lain adalah percaya bahwa dengan memiliki barang yang diinginkan akan mendapatkan kebahagiaan. Kalau senang kepada barang, kesenangannya itu hanya sebatas usia barangnya. Barangnya rusak/hilang, kesenangannya juga ikut sirna. Kesenangan semu/sesaat saja. Pola hidup memiliki sebab-sebab. Meskipun sulit mengetahui sebab pertama secara nyata, tetapi berpijak pada Dhammacakkapavatana Sutta, dapat dijelaskan bahwa pola hidup konsumtif memiliki tiga sebab, yaitu: nafsu keinginan terhadap kenikmatan indera, dan nafsu keinginan untuk menjadi, terhanyut dalam kesenangan indera dan nafsu keinginan untuk tidak menjadi. Menolak yang tidak menyenangkan. Nafsu keinginan kenikmatan indria berakar pada lobha citta. Nafsu keinginan untuk menjadi berakar pada moha citta, sedangkan nafsu keinginan untuk tidak menjadi berakar pada dosa citta. Paiccasamupada bekerja di dalam pola hidup konsumtif. Paiccasamuppada merujuk pada pemunculan (dan penghentian) yang saling berkaitan dari segala sesuatu yang ada, yakni segala hal muncul dan lenyap dikarenakan oleh sebab dan kondisi.

Hal ini diartikan bahwa segala sesuatu yang ada adalah terkondisi dan tidak ada sesuatu apapun yang tidak berubah atau kekal abadi. Dampak dari pola hidup konsumtif akan memberikan akibat bagi manusia yang berperilaku konsumtif atau hidup berfoya-foya. Menurut Dhammananda perilaku konsumtif akan berakibat menurunnya nilai kemoralan, hilangnya kekayaan secara nyata, dan penderitaan pada kehidupan yang akan datang. Termasuk di dalam menurunnya nilai kemoralan adalah tanggung jawab pelaku pola hidup konsumtif terhadap lingkungan. Sementara kekayaan yang dimaksud adalah kekayaan berupa materi dan kesehatan. Kehidupan yang akan datang adalah kehidupan setelah kelahiran kembali. Pola hidup konsumtif tidak hanya menimbulkan penderitaan pada kehidupan sekarang tapi juga kehidupan setelah meninggal jika pola hidup tersebut tidak diminimalisir.

1. Konsumsi Salah
Konsumsi yang salah adalah penggunaan barang dan jasa untuk memuaskan, keinginan untuk menyenangkan indria dan sebagai pemuasan ego, atau konsumsi yang didasarkan oleh taha (Taniputra, tanpa tahun:29). Sedangkan pengertian taha itu sendiri adalah kemelekatan atas objek-objek inderawi yang menyenangkan atau kemelekatan atas kenikmatan inderawi. Secara singkat taha dapat diartikan sebagai keinginan untuk memperoleh, mendapatkan sesuatu, atau hawa nafsu keinginan rendah yang mengandung kemelekatan (Taniputra, tanpa tahun:20). Manusia diliputi oleh taha atau hawa nafsu keinginan yang rendah. Sehingga dalam memenuhi keinginan manusia rela menghalalkan segala cara untuk memenuhi hawa nafsu keinginan. Manusia menjadi saling mementingkan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain. Taha dalam agama Buddha menurut paiccasamuppada disebabkan oleh perasaan. Maka manusia akan berusaha mencari hal-hal yang menyenangkan dirinya. Ada enam jenis objek yang dapat menimbulkan kesenangan, diantaranya: (a). suara, (b). bau, (c). rasa, (d). sentuhan, (e). objek-objek mental, (f). wujud.

Orang cenderung mencari wujud-wujud yang indah untuk menyenangkan perasaan, dan cenderung menghindari wujud-wujud yang tidak menyenangkan. Misal: dalam memilih pakaian orang pasti berusaha mencari pakaian yang modelnya sesuai dengan keinginan. Keinginan manusia sekarang makin aneh-aneh; model pakaiannya pun jadi aneh-aneh dan makin pada nyeleneh (ganjil). Menurut pandangan Buddhis, apabila konsumsi meningkatkan kesejahteraan sejati, maka konsumsi dikatakan berhasil. Sebaliknya, bila konsumsi hanya menghasilkan perasaan puas, maka konsumsi dikatakan gagal. Selain itu memanjakan diri dalam kesenangan tanpa memperhatikan akibatnya seringkali berdampak buruk dan hilangnya kesejahteraan. Lebih jauh, konsumsi berlebihan yang tanpa terkendali dalam masyarakat dapat meningkatkan rasa tidak puas. Konsumsi yang didasarkan oleh taha akan merugikan diri sendiri dan orang lain, karena konsumsi salah akan membawa ke dalam pemuasan, keinginan, dan nafsu inderawi, sehingga harus dihindari oleh orang pada kehidupan sekarang ini. Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Payutto, maka pola hidup konsumtif merupakan konsumsi yang salah menurut Buddhisme. Pola hidup konsumtif sesuai dengan pengertiannya ialah pola konsumsi yang berdasarkan taha, yaitu pola konsumsi yang hanya mengedepankan kepuasan nafsu indera dan mengandung kemelekatan.

2. Konsumsi yang Benar
Konsumsi yang benar adalah konsumsi yang berdasarkan kepada Chanda. Pengertian ”Chanda adalah keinginan atau kepuasan yang tanpa kemelekatan, hanya sesuai tujuannya saja.” Kebenaran dan kebaikan harus diperoleh dengan usaha yang baik dan didasarkan dengan kebijaksanaan. Mengenai konsumsi yang benar Payutto berpendapat bahwa: konsumsi yang benar selalu memberikan sumbangan pada kesejahteraan dan membentuk perkembangan dasar lebih lanjut terhadap potensi diri manusia. Ini adalah hal penting yang sering kali tidak terlihat oleh ahli ekonomi. Konsumsi yang dibimbing oleh Chanda menghasilkan lebih banyak dari sekedar pemuasan seseorang. Ia memberikan sumbangsih pada kesejahteraan dan perkembangan spiritual. Konsumsi yang didasarkan oleh Chanda ini lebih bertujuan untuk tidak merugikan makhluk lain dan lebih memperhatikan kepentingan makhluk lainnya dan juga konsumsi yang lebih menekankan pada azas manfaat.

Misalnya untuk bertahan hidup manusia membutuhkan makanan, dengan demikian saat menelan atau memakan suatu makanan sebenarnya bertujuan untuk kesehatan bukan sebagai kesenangan. Pada saat makan, orang harus merenungkan bahwa dalam menikmati makanan bukan bertujuan sebagai kesenangan lidah, atau untuk memuaskan keinginan nafsu terhadap makanan. Konsumsi yang didasarkan pada chanda lebih bermanfaat dari sekedar pemuasan keinginan orang, karena konsumsi yang didasarkan pada chanda dapat memberikan sumbangsih pada kesejahteraan dalam perkembangan spiritual manusia. Apabila semua aktivitas ekonomi dibimbing oleh cetana yang baik, maka hasilnya akan lebih dari ekonomi yang sehat dan kemajuan materi pada diri orang dan memungkinkan manusia untuk menjalani kehidupan mulia dan menikmati bentuk kebahagiaan yang lebih berarti. Berpedoman pada Empat Kebenaran Mulia bahwa dampak dari pola hidup konsumtif adalah penyakit dan kerusakan lingkungan, aspek psiko spiritual manusia yang lemah dan kebudayaan baru yang memperkenalkan pola hidup konsumtif menjadi semakin meningkat. Sebab dari pola hidup konsumtif adalah taha.

Nibbāna adalah terbebasnya dari pola hidup konsumtif. Jalan untuk melepaskan diri dari pola hidup konsumtif adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan. Bebas dari pola hidup konsumtif dapat direalisasikan dalam kehidupan sekarang, yaitu dengan meminimalisirnya. Jalan Mulia Berunsur Delapan memiliki tiga elemen, yaitu Kebijaksanaan (Pañña), Moralitas (Sīla) dan Konsentrasi (Samādhi). Pañña, Sīla dan Samādhi adalah merupakan ajaran yang dipraktikkan. Praktik dari ajaran tersebut dinamakan Citta Sikkha, Sīla Sikkha dan Samādhi Sikkha. Pola hidup konsumtif dapat diminimalisir bahkan dilenyapkan dengan menjalankan Jalan Mulia Berunsur Delapan tersebut. Melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan dapat ditemukan pendapat untuk individu ataupun membentuk sistem yang dapat digunakan agar terbebas dari pola hidup konsumtif. Sistem atau struktur diperlukan karena jika membebaskan diri dari pola hidup konsumtif secara individu tidak akan pernah efektif. Tidak efektifnya peran individu dikarenakan pola hidup konsumtif telah tumbuh subur dalam kehidupan manusia di seluruh dunia.

Selain itu pola hidup konsumtif terbentuk karena adanya suatu kontrol atau sistem yang mengaturnya. Kebutuhan dibuat sedemikian rupa menjadi sama penting untuk dipenuhi. Perubahan kebudayaan telah diperkenalkan oleh kaum kapitalisme agar produksi besar-besaran ditanggapi oleh konsumen. Selain sistem pembebas pola hidup konsumtif melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan, Buddhis juga memiliki sistem ekonomi yang manusiawi. Menurut Schumacher (1994:55) ekonomi yang berlandaskan Buddhis adalah ekonomi yang berdasar pada kesederhanaan dan tanpa kekerasan. Lebih lanjut menurut Schumacher: “Pola konsumsi yang optimal yaitu yang menghasilkan tingkat kepuasan manusia dengan rata-rata konsumsi yang relatif rendah, memungkinkan orang hidup tanpa tekanan dan ketegangan (stress).” Produksi dari sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan lokal adalah cara yang paling rasional, sedangkan ketergantungan pada impor dan keharusan ekspor ke negara yang jauh dianggap oleh ilmu agama Buddha sebagai sesuatu yang tidak ekonomis.

Dalam sudut pandang agama Buddha mengenai sumber daya, sumber daya yang tidak dapat dipulihkan dapat dipakai hanya jika sungguh-sungguh diperlukan, dan digunakan secara hemat dan cermat. Menggunakan bahan yang tidak dapat dipulihkan adalah suatu tindakan kekerasan, meskipun tanpa kekerasan mutlak, setidaknya umat Buddha berusaha mencapai cita-cita tanpa kekerasan dalam kehidupannya. Dengan demikian tentu seseorang akan dapat hidup tenang, damai, dan bahagia. Semoga Semua Makhluk Berbahagia