Galau... Bagaimana Menyikapinya?

Y.M. Bhikkhu Abhayanando, Thera

Hidup dan Realita
Suatu hari ada perbincangan di saung sebuah villa. Dalam perbincangan itu muncul pertanyaan, ”Apakah kita dapat sembunyi atau lari dari persoalan hidup?” Orang yang bertanya tersebut berpikir bahwa apa yang dilakukan ketika dia meninggalkan Jakarta yang dianggap penuh dengan persoalan ternyata persoalan kehidupan tidak hilang begitu saja. Ia masih merasakan persoalan itu, hanya saja ketika dia berada di lingkungan yang sejuk dan pemandangan yang indah seolah-olah persoalan itu tidak ada.

Pertanyaan seperti tersebut sering ditanyakan oleh banyak orang dalam kehidupan ini. Sebuah pertanyaan yang wajar dimunculkan karena pada dasarnya manusia berharap kehidupannya bahagia dan sejahtera. Kehidupan yang tenang, damai, bahagia, dan sejahtera sangat didambakan oleh banyak orang dalam kehidupan ini. Walaupun pertanyaan itu wajar tetapi kita tetap tidak dapat lari dari persoalan kehidupan. Realita tetaplah realita yang harus dihadapi manusia.

Kehidupan ini adalah sebuah proses yang harus dihadapi oleh manusia. Proses kehidupan ini kadang manis tetapi terkadang juga pahit dirasakannya. Proses kehidupan adalah sebuah realita yang harus diterima oleh manusia. Kita berharap manis kehidupan yang kita temui dalam kehidupan ini tetapi ternyata harapan hanyalah sekedar harapan. Harapan itu pun ternyata tidak muncul dihadapan kita. Justru yang kita hadapi adalah pahitnya kehidupan.

Siapa sih yang tidak mau bahagia hidupnya? Semua orang berharap kebahagiaan selalu bersamanya sepanjang kehidupan ini. Penderitaan dan kesulitan dalam kehidupan ini tidak diharapkan oleh semua orang tetapi penderitaan dan kesulitan itu juga harus kita hadapi.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa realita kehidupan ini harus dihadapi oleh semua orang. Manusia tidak bisa lari atau sembunyi dari realita kehidupan itu. Semakin berpikir untuk lari atau sembunyi dari realita kehidupan justru akan membuat manusia semakin mengalami kemerosotan dan penderitaan. Ibarat sebuah roda demikian pula kehidupan ini terus berproses dan perputaran kehidupan ini harus kita hadapi dengan kembali ke jalan Dhamma.

Bagaimana Manusia Bersikap?
Persoalan kehidupan ini beragam, dari persoalan yang ringan sampai persoalan yang berat. Manusia dihadapkan dengan masalah pekerjaan, pertemanan, rumah tangga, percintaan, dan banyak lagi persoalan yang harus dihadapi. Kita pernah mendengar ada orang yang kemudian memutuskan untuk melakukan bunuh diri karena persoalan yang dihadapinya. Ada juga yang mengalami depresi berat karena masalah yang tidak kunjung usai.

Umumnya ketegangan pikiran melanda kehidupan manusia ketika harus dihadapkan dengan persoalan hidup. Pikiran mereka menjadi kacau, bingung, gelisah, marah atau bahasa anak muda sekarang adalah ”galau.” Ketika pikiran dalam kondisi galau sesungguhnya mereka larut dalam persoalan yang dihadapi. Sikap orang yang lagi galau cenderung mendramatisir masalah yang sedang dihadapi. Anggapan mereka, masalah itu sangat berat dan menganggap persoalan itu tidak ada solusinya. Sikap seperti itu tidaklah baik dan akan mengantarkan mereka dalam kemerosotan.

Kecenderungan dari mereka yang lagi galau adalah mengalami kejenuhan, bosan, kecewa, sedih, marah, dan emosi-emosi negatif lainnya. Jika hal tersebut dibiarkan maka mereka tidak mendapatkan kebahagiaan tetapi penderitaan. Jauhkan diri kita dari emosi negatif karena hal tersebut tidak akan membantu memecahkan persoalan yang sedang dihadapi. Ada juga orang-orang yang mampu menghadapi persoalan dalam kehidupan ini. Mereka menyadari bahwa pikiran positiflah yang berguna untuk menghadapi persoalan yang sedang dihadapi. Masalah kehidupan adalah realita yang harus mereka hadapi oleh karena itu mereka tidak berlarut-larut dalam kesedihan, kekecewaan, ratap tangis, kemarahan, dan emosi negatif lainnya. Mereka tahu bahwa semua itu tidak bermanfaat untuk pencapaian cita-cita luhurnya. Mereka pun bangkit dan berusaha menghadapi persoalan kehidupan ini.

Kenapa ada yang mampu berhadapan dengan persoalan kehidupan tetapi ada yang tidak mampu? Jawabannya ada dalam diri kita sendiri. Ketidakmampuan menghadapi persoalan kehidupan ini karena kondisi batin manusia yang masih rapuh. Padahal kalau mereka mau membangun potensi yang ada dalam dirinya mereka juga mampu berhadapan dengan persoalan kehidupan ini.

Sedangkan mereka yang mampu berhadapan dengan persoalan kehidupan ini karena pikirannya sudah terlatih. Pikiran yang sudah terlatih akan mampu berhadapan dengan masalah kehidupan ini. Setidak-tidaknya mereka tidak larut atau tenggelam dengan masalah yang sedang dihadapi.

Mereka yang sedang galau
Galau adalah suatu keadaan dimana kita memikirkan suatu hal secara berlebihan, bingung apa yang harus dilakukan dengan suatu hal ini. Dengan pikirannya sendiri sehingga menimbulkan efek emosi melabil, pikiran pusing, dan mendadak insomnia. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, galau adalah pikiran yang kacau atau pikiran yang tidak menentu.

Galau merupakan suatu perasaan dimana seseorang memikirkan hal-hal secara berlebihan, kemudian bingung ketika memikirkan apa yang harus dilakukan terhadap hal tersebut dengan pikirannya sendiri, sehingga emosi menjadi tidak stabil, pikiran pusing, lalu mendadak insomnia. Galau juga perasaan emosi labil seseorang saat ia tidak dapat menentukan pilihan, takut akan yang terjadi nanti, apakah sesuai harapan atau tidak, benar atau salah ya…???, bimbang, dan gak percaya diri dengan apa yang sudah dipilih untuk menjadi sebuah pilihan dan keputusan akhir yang diambil.

Penyakit ini rentan hinggap pada usia-usia muda, remaja, belia, dan bahkan yang sudah dewasa pun terkadang juga ikut merasakan sengatan galau ini. Nah, jika sudah terinfeksi, jangan dibiarkan berlama-lama mengendap dalam diri. Perasaan galau kadang datang tiba-tiba, mungkin karena suatu masalah yang menimpa kita juga selalu datang tiba-tiba. Misalnya, seorang mahasiswa yang galau karena memikirkan nilai IP-nya yang jelek, atau seorang cewek yang galau karena tiba-tiba diputus sang pacar tanpa sebab, atau juga seseorang yang lagi berantem sama sahabat karena suatu kesalahpahaman hingga membuat dia galau. Persoalan berumah tangga juga dapat membuat seseorang menjadi galau. Banyak sekali contoh-contoh perasaan galau yang menimpa kita atau orang-orang di sekitar kita.

Pada dasarnya galau adalah pikiran yang tidak menentu atau kacau ketika harus berhadapan dengan masalah dalam kehidupan ini. Mereka terbebani dengan persoalan dan larut dalam persoalan tersebut. Padahal masalah yang ada dalam kehidupan ini ada jalan keluarnya. Hanya saja karena mereka larut dalam masalah yang sedang dihadapi seolah-olah solusi itu tidak ada. Jangan biarkan pikiran kita terus dalam kondisi galau dan berusahalah bangkit menantap kehidupan ini dengan batin yang dewasa.

Dhamma . . . menumbuhkah mental dewasa
Dalam kehidupan ini banyak kisah yang dapat menginspirasi kita untuk bisa tegar menghadapi kehidupan ini. Suatu hari ada seorang pemuda di sebuah desa yang harus berhadapan dengan masalah yang bertubi-tubi. Banyak masalah yang sedang dihadapi seperti masalah dengan tunangannya, keluarganya, dan juga pekerjaannya.

Setiap hari pemuda itu berada di sebuah danau yang ada di desa tersebut. Apa yang dilakukan pemuda tersebut? Pemuda tersebut larut dalam permasalahan yang sedang dihadapi. Ia merasakan kesedihan, kekecewaan, dan segudang emosi negatif lainnya. Ia terus merenungkan masalah yang sedang dihadapi dan terlintas dalam pikirannya, ”Kenapa saya harus berhadapan dengan masalah yang sangat berat?” Apakah saya harus seperti ini terus sepanjang kehidupan ini? Kenapa saya harus lahir dalam kehidupan ini kalau harus berhadapan dengan masalah dan kesulitan hidup?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul dalam pikiran anak muda tersebut. Ia terus berpikir mengapa? Kenapa? dan pikiran-pikiran buruk lainnya. Anak muda itu pun terus larut dengan masalah yang dihadapi dan terlintas dalam pikirannya untuk bunuh diri. Untuk apa saya hidup kalau harus menderita seperti ini. “Lebih baik mengakhiri kehidupan ini,” pikir anak muda itu.

Pada saat pemuda tersebut mau melakukan tindakan nekat datanglah sahabatnya. Sahabatnya bercerita banyak tentang pengalamannya dan juga tentang kehidupan ini. Sahabatnya bertanya, “Apakah kematian membuat segalanya berubah? Bagaimana dengan orang tuamu, adik-adikmu, dan juga keluargamu yang lain? Masalah tidak selesai dengan melakukan bunuh diri. Justru masalah akan bertambah dengan kematianmu,” kata sahabatnya.

Pemuda itu pun merenungkan kata-kata sahabatnya dan kemudian berpikir, ”Benar juga kata sahabatku ini. Kalau saya melakukan bunuh diri masalah tidak selesai dan tumbuh masalah baru.” Apa yang harus saya lakukan untuk menghadapi kehidupan ini? Pemuda tersebut bertanya pada sahabatnya. Kembalilah ke jalan luhur ajaran Buddha. Buddha mengajarkan kita untuk melihat kehidupan ini dengan pikiran yang realistis dan masih banyak ajaran lainnya yang akan membuat dirimu menjadi lebih baik dan dewasa menghadapi kehidupan ini.

Setelah mendengarkan uraian Dhamma dari sahabatnya pemuda itu pun berusaha untuk belajar Dhamma dan mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya, ia mengubah cara berpikirnya melihat kehidupan ini. Ia pun bergairah kembali mengarungi kehidupan ini dan bisa bangkit dari keterpurukan yang selama ini membebani kehidupannya.

Kisah tersebut di atas merupakan salah satu kisah di antara banyak kisah yang bisa menginspirasi kita menghadapi kehidupan ini. Kalau kita bertanya pada diri sendiri, apa yang saya lakukan ketika saya berhadapan dengan masalah dalam kehidupan ini? Jawablah dengan jujur dan kemudian berusahalah untuk merenungkan jalan luhur yang telah ditunjukkan oleh Sang Guru. Maksudnya dari pertanyaan tersebut adalah bahwa kehidupan ini erat kaitannya dengan ajaran Buddha.

Buddha mengajarkan bahwa hidup ini dukkha artinya kita semua akan berhadapan dengan masalah kehidupan yang sewaktu-waktu bisa membuat pikiran kacau atau galau. Semua itu adalah realita yang harus dihadapi. Lihatlah dengan objektif dan pikiran yang realistis. Kalau kita dapat bersikap seperti itu maka kita akan menemukan solusi untuk memecahkan persoalan yang sedang kita hadapi.

Memahami corak kehidupan ini adalah kunci untuk mengatasi persoalan kehidupan yang silih berganti dihadapi oleh manusia. Manusia terkadang terjebak dalam persoalan kehidupan ini karena tidak memahami corak kehidupan ini dengan pikiran yang benar. Karena pandangannya tidak benar, seolah-olah kehidupan ini bisa sesuai dengan apa yang dipikirkan, padahal apa yang dipikirkan belum tentu didapatkan.

Realita kehidupan sesungguhnya tidak akan membebani kita kalau kita memiliki pandangan yang benar terhadap corak kehidupan ini. Pandangan yang benar itu menjadi dasar untuk melakukan langkah berikutnya. Kalau kita terus tenggelam dan larut dalam persoalan hidup maka kita tidak dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat.

Kondisi pikiran yang kacau atau galau hanya akan mengumbar kesedihan, kekecewaan, kemarahan, kejenuhan, dan emosi negatif lainnya. Kondisi pikiran yang seperti itu tidak akan membawa manfaat bagi kehidupan seseorang. Orang yang tenggelam dalam permasahan hidup tidak akan bisa hidup bahagia dan terus berada pada kemerosotan dan penderitaan.

Oleh karena itu, pemahaman yang benar tentang corak kehidupan ini sangat diperlukan untuk dapat lepas dari pikiran yang kacau atau galau. Kita dapat melakukan hal yang bermanfaat untuk diri kita dan juga untuk orang lain. Karena sesungguhnya kebahagiaan itu akan menjadi milik kita kalau kita dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat dalam kehidupan yang tidak pasti ini.

Kembalilah pada jalan luhur Buddha. Dhamma yang merupakan ajaran luhur Buddha adalah jalan untuk membebaskan kita dari pikiran yang kacau. Pikiran yang kacau akan membuat kita kebingungan menentukan langkah dalam kehidupan ini. Jalan luhur ini harus kita pelajari dan kita praktikkan dalam kehidupan ini terus-menerus dan jangan berhenti.

Lepaskan pikiran kita dari kegalaun yang tentu tidak akan mengantarkan kita pada kebahagiaan. Pikiran yang galau hanya akan membuat hidup kita tidak nyaman tetapi pikiran yang terbebas dari beban persoalan kehidupan itulah yang akan mengantarkan pada kehidupan yang nyaman. Lakukan yang terbaik dalam kehidupan ini dan Dhamma adalah jalan yang terbaik yang bisa kita gunakan untuk menemukan indahnya kehidupan ini.