Membangun Tata Krama

Y.M. Bhikkhu Indaguno, Thera

Na bhaje pāpake mitte, na bhaje purisādhamme, bhajetha mitte kalyāne, bhajetha purisuttame.
Tidak bergaul dengan orang-orang jahat, tidak bergaul dengan orang berbudi rendah, tetapi bergaullah dengan sahabat yang baik, bergaullah dengan orang yang berbudi luhur
(Dh. paita vagga: 78)

Indonesia dulu terkenal dengan budaya adi luhung di mana setiap orang memiliki tata krama dan sifat ramah sehingga masyarakatnya memiliki kepatuhan kepada hukum Negara, agama maupun adat setempat. Setiap daerah memiliki aturan atau norma-norma yang berbeda tetapi pada intinya mengarah pada budaya adi luhung yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur salah satunya tentang tata krama.

Tetapi dengan berjalannya waktu ternyata banyak perubahan semakin menurunnya nilai tata krama yang terjadi dengan berbagai faktor antara lain: pengaruh budaya, sifat manusia yang individual, berkurangnya rasa hormat, tidak beretika, dan bermoral. Kasus yang paling sering kita jumpai dalam berpakaian karena pengaruh budaya seseorang sering mengabaikan kesopanan dan etika budaya timur. Sering kali orang timur ke barat-baratan, dan masih banyak hal-hal lain yang sering mengabaikan etika atau tata krama seperti pergaulan contoh dalam berpacaran. Dalam berpacaran, anak muda biasanya mengabaikan moral dan sering terjadi pelanggaran sla ketiga Pacasla Buddhis yaitu kāmesu micchācārā veraman sikkhapada samādiyāmi, saya bertekad akan melatih diri menghindari berbuat asusila atau berzina. Yang masa lalu dikatakan sebagai hal yang paling dihargai tetapi anak muda sekarang menganggap remeh.

Hasil penelitian dari 4.726 responden siswa SMP/SMA di 17 kota pada tahun 2008, menunjukkan bahwa 62,7 % sudah tidak perawan, dan 21,12% pernah aborsi (tribun new.com) ini merupakan kenyataan yang sangat memilukan di mana manusia sudah mengalami kemerosotan moral dan tata krama. Rasa menghargai kepada orangtua dan orang yang dituakan, dan lain-lain.

Dan masalah yang tidak kalah penting adalah cara orangtua mendidik anak, sekarang ini banyak orangtua yang sering mengabaikan pendidikan budi pekerti dan salah dalam mendidik, mereka lebih senang ketika anak-anaknya pintar tanpa memperhatikan bagaimana perilaku anaknya. Maka orangtua berusaha membentuk anaknya sesuai dengan keinginan sehingga dalam keseharian anaknya diminta les tanpa mempedulikan kebutuhan bahwa anak butuh bermain. Supaya anaknya bisa masuk sekolah bergengsi sehingga orangtuanya bangga. Seandainya itu tidak tercapai ada orangtua yang lewat jalur belakang. Ini adalah hal yang memprihatinkan. Karena hal ini kalau sampai diketahui anak merupakan suatu bentuk pengajaran kepada anak untuk mencapai tujuan bisa menggunakan segala macam cara entah itu sesuai etika maupun tidak yang penting tujuan tercapai. Masalah yang lain adalah anak sering dibiarkan main game sendirian. Hal ini akan membentuk anaknya menjadi manusia yang individual tidak peduli dengan lingkungan dan masyarakat sekitar. Ia tidak pernah berinteraksi dengan kawan-kawan sebayanya sehingga sifat peka terhadap lingkungan dan tetangga kurang berkembang. Apalagi kalau dia main game tentang kekerasan, misalnya perkelahian, tembak-tembakan, dan lainnya. Game sifatnya netral bisa menjadi ilmu tetapi juga sebaliknya akan bisa menjadi bumerang kalau orangtua membiarkan anaknya main game sendirian.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tata krama memiliki arti: sopan santun adat, dalam makna yang lebih luas tata krama adalah tindakan yang telah menjadi tuntunan masyarakat, sedang kata membangun memiliki makna memperbaiki, bangkit. Jadi membangun tata krama berarti membangkitkan kembali tata krama atau membangkitkan kembali tindakan yang dapat menjadi tuntunan masyarakat yaitu sopan santun. Kita bisa mempelajari hal yang berkaitan dengan etika atau tata krama dari berbagai sumber misalnya: agama, adat istiadat atau budaya lokal, aturan atau norma masyarakat, budaya nasional. Tentunya kita mengambil pedoman tersebut tidak asal comot tetapi kita harus gunakan akal budi dan kebijaksanaan kita untuk mengambil suatu ajaran tata krama yang tidak kaku dan mengikat.

Hal yang paling mudah sebagai sikap manusia yang beradab adalah mengucapkan terima kasih yang tulus kepada orang yang telah menolong atau memberi sesuatu pada kita kadang pun sulit dilakukan. Kenapa kita hendaknya mengucapkan terima kasih pada orang lain karena dengan mengucapkan terima kasih berarti itu sebuah penghargaan terhadap apa yang telah dilakukan pada kita. Tata krama dikembangkan bertujuan untuk menjaga keharmonisan antarmanusia ketika setiap insan mampu menjaga tata krama dan budi pekerti maka hubungan antarmanusia akan semakin baik karena ada saling menghargai, saling menghormati, saling melindungi, merasa sebagai manusia yang senasib sepenanggungan. Bagaimana mewujudkan supaya tata krama tetap terjaga dengan baik?

Peran keluarga
Orangtua adalah orang pertama yang menjadi guru sebelum anak-anak mengenal guru di sekolah, mereka merupakan orang yang sering bertemu bahkan ketika orangtuanya mampu memberikan pendidikan yang kuat tentang dasar-dasar budi. Hal yang mendasar yang harus diajarkan dalam membangun tata krama antara lain: tata cara makan, tata cara berpakaian, tata cara bersikap pada tamu, tata cara bersikap pada orangtua, tata cara bersikap pada guru, tata cara bersikap pada sesama, tata cara bersikap pada orang yang sudah tua atau yang dituakan, cara bersikap dan bertutur kata pada orang lain harus dengan cara yang baik. Orangtua juga hendaknya mengajari bagaimana bersikap ketika ada tamu minimal diajarkan untuk menyapa atau memberi salam, pada tetangga, kakek-nenek, dan lain-lain. Dalam Sigalovāda Sutta mengajarkan ada lima kewajiban yang harus dilakukan orangtua antara lain: Mencegah anaknya berbuat jahat. Menganjurkan anaknya berbuat baik. Memberikan pendidikan yang sesuai. Memberikan warisan ketika sudah waktunya. Membantu mencarikan pasangan yang sesuai untuk anaknya. Ini merupakan dasar terbentuknya etika dan budi pekerti yang baik,

Peran guru
Guru adalah sebagai pendidik sekaligus sebagai pengganti orangtua, tugas guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga harus mengajarkan budi pekerti dan tata krama. Kalau seorang guru hanya mengajarkan ilmu tanpa mengajarkan budi pekerti muridnya akan tumbuh menjadi orang pandai tetapi tidak tahu tata krama, dia akan menilai suatu masalah berdasarkan emosi bukan berdasar akal budi, ia akan menjadi pribadi yang mudah marah dan mudah dipengaruhi, situasi semacam ini sudah sering kita saksikan baik lewat media cetak maupun elektronik di mana ada mahasiswa yang notabene orang terdidik ketika berdemo sambil merusak lingkungan seperti yang terjadi baru-baru ini di beberapa kota besar di Indonesia, misalnya Medan, Makassar, dan lain-lain.

Di dalam Sigalovāda Sutta Sang Buddha menjelaskan ada 5 kewajiban guru kepada muridnya: Memberikan ilmu secara menyeluruh. Memastikan muridnya menguasai semua ilmu yang diberikan guru. Memberikan landasan untuk semua keterampilan. Merekomendasikan mereka kepada teman. Memberikan keamanan dari segala penjuru.

Selain menjalankan kewajiban seseorang harus bisa menjadi teladan bagi murid-muridnya, guru dalam bahasa Jawa sering diartikan digugu dan ditiru, digugu artinya menjadi panutan atau teladan, ditiru apapun tingkah pola guru akan dicontoh entah itu yang baik maupun yang buruk. Murid ketika sudah merasa salut dan percaya dengan gurunya ia akan lebih percaya guru dari pada orangtuanya karena menganggap gurunya orang pandai. Kalau seseorang bisa memberikan contoh yang baik pada muridnya niscaya muridnya akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki tata krama dan budi pekerti.

Peran lingkungan
Kalau seorang anak tumbuh di antara orang-orang yang berbudi pekerti luhur anak tersebut akan menjadi anak yang memiliki tata krama karena terkondisi oleh lingkungan di mana dia tinggal, seorang anak kecil sering kali mudah meniru segala hal yang ia dengar dan lihat. Apa yang ia lihat dan dengar kemudian ia cerap dianggap sebagai sesuatu yang perlu dicontoh, misalnya di lingkungan ia sering mendengar kata-kata yang positif ia akan berucap kata-kata yang positif tetapi sebaliknya kalau seorang anak sering mendengar kata-kata kasar ia juga akan berucap dengan kata-kata yang kasar juga.

Peran agama Para pemuka agama adalah orang yang berpengetahuan lebih tentang agamanya maka sebagai orang yang dianggap lebih tahu hendaknya mampu memberikan pelajaran yang baik kepada umat dan mengutamakan landasan budi pekerti dan etika maka agama akan memiliki pengaruh untuk membawa perubahan kepada umatnya sehingga umatnya bertindak berdasarkan agama yang ia yakini, tetapi sebaliknya ketika agama sudah dijadikan komoditas akan tujuan untuk membentuknya umat berbudi pekerti sering terabaikan karena sudah ada kepentingan. Di samping itu para pemuka agama juga harus bisa menjadi suri tauladan dengan perilaku, ucapan sebagai orang yang berbudi pekerti, dan memahami agama yang ia anut. Selain dukungan dari luar supaya sopan santun berkembang dalam diri seseorang juga dibutuhkan dorongan orang tersebut untuk memiliki beberapa hal antara lain: moralitas, sikap rendah hati, spiritual atau kematangan batin.

Manfaat yang akan kita dapatkan apabila kita membangun tata krama, ia akan menjadi suri tauladan bagi orang lain, dengan memiliki tata krama ia akan berkembang tingkah laku yang positif, akan membantu menumbuhkan rasa percaya diri.