Menjaga Kearifan Lokal Berpedoman Pada Dhamma

Y.M. Bhikkhu Candakaro, Mahathera

Di zaman sekarang ini, bagi masyarakat Indonesia, banyak sekali mengalami pergeseran nilai-nilai kearifan lokal khas Indonesia yang sudah mulai hilang. Kearifan lokal khas Indonesia sangatlah banyak, misalnya kebudayaan, seni, fashion, dan masih banyak yang lain. Sebagai contoh yang berkenaan dengan budaya. Pergeseran dan perubahan kebudayaan ini disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktornya adalah kita tidak dapat terhindar dari kontak dengan kebudayaan bangsa lain, apalagi pada era modern ini, perubahan begitu terasa sangat cepat dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Budaya asing terutama budaya barat dengan sangat mudahnya masuk ke Indonesia tak terikat oleh ruang dan waktu, karena adanya teknologi yang demikian semakin canggih. Dan semua itu membuat perubahan terhadap perilaku, cara berpikir, dan juga gaya hidup bermasyarakat orang Indonesia.

Dapat kita ambil contoh seperti cara berpakaian. Cara berpakaian masyarakat Indonesia sudah sedemikian terpengaruh dengan budaya berpakaian khas barat. Budaya berpakaian masyarakat Indonesia yang dulunya tertutup dan rapi sekarang sudah mulai sulit kita jumpai lagi. Hal seperti bagi masyarakat yang suka mengikuti trend, terutama masyarakat perkotaan mereka anggap wajar karena mereka nyaman dengan berpakaian seperti itu. Padahal peristiwa ini lama- kelamaan akan membuat citra buruk bagi bangsa Indonesia.

Selain cara berpakaian, perilaku masyarakat Indonesia yang sekarang mengalami perubahan drastis adalah dalam seni seperti seni musik dan film. Kita lihat saja di pertelevisian Indonesia sekarang ini, banyak sekali musik dan film yang menayangkan bintang-bintang dari Korea. Banyak bermunculan artis Indonesia yang mengadopsi gaya mereka. Artis-artis tersebut tidak malu menirukan gaya-gaya khas Korea.  Padahal seharusnya kita malu karena bangsa lain bisa juga menilai kita sebagai bangsa yang sangat mudah dipengaruhi. Kalau memang kita ingin menunjukkan pada negara lain, seharusnya kita bisa kreatif dengan membuat lagu atau tarian sendiri tanpa harus mengadopsi dan meniru dari budaya bangsa lain dengan tak mengurangi sedikitpun ciri khas bangsa Indonesia. Kearifan lokal  khas Indonesia seperti pendidikan etika, spiritual, budaya gotong royong, yang menjadi ciri khas pola hidup bermasyarakat, ragam bahasa dan berbangsa. Semua itu perlu kita jaga, dan kita lestarikan. Namun dewasa ini sudah mulai hilang karena masyarakat Indonesia terlalu berkiblat kepada negara lain. Padahal bangsa Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri yang perlu kita banggakan.

Agama Buddha Menghargai Kearifan Lokal
​Sebagai umat Buddha tentunya kita akan menjadi sangat baik kalau tidak larut dalam arus budaya meniru, sebagaimana diketahui bahwa saat ini hal tersebut dapat melunturkan budaya lokal. Agama Buddha sangat menghargai kearifan lokal dari masing-masing daerah. Bahkan dalam perkembangannya, agama Buddha tidak pernah bertentangan dengan tradisi dan budaya lokal. Beberapa poin penting yang menunjukkan bahwa agama Buddha menghargai budaya lokal, di antaranya:

1. Agama Buddha bersifat Universal
Perhatian utama Buddha adalah kebahagiaan sejati.  Ajaran Buddha dapat dipraktikkan dalam kehidupan berumah tangga ataupun petapa, oleh semua sistem kepercayaan dan semua ras. Ajaran Buddha sama sekali tidak memihak dan benar-benar universal. Bahkan pertama kemunculannya, Buddha tidak menyetujui adanya kasta dalam kehidupan masyarakat di India. Apakah Buddhisme suatu agama atau filsafat, dalam hal ini Buddha tidak menganggap penting.

2. Kebebasan berpikir
Berawal dari sisi kecerdasan dan filsafat agama Buddha, tumbuh suatu kebebasan berpikir dan kebebasan bertanya yang tidak tertandingi oleh filsafat atau agama besar dunia lainnya. Buddha selalu mendorong kita untuk mempertimbangkan ajaran-Nya. Tidak ada keharusan atau paksaan apapun untuk percaya dan menerima ajaran Buddha.

3. Ehipassiko: Datang dan Lihatlah atau buktikan sendiri
Jangan percaya begitu saja terhadap apapun yang telah kamu dengar; Jangan percaya begitu saja akan tradisi, desas-desus, atau omongan banyak orang; Jangan percaya begitu saja hanya karena hal itu tertulis dalam kitab suci agamamu. Namun, melalui pengamatan dan analisis, bila menemukan hal itu sesuai nalar dan mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, maka hiduplah sesuai dengan hal tersebut. Sebagai penganut ajaran Buddha, kita dianjurkan untuk datang dan melihat sendiri/membuktikan, bukan datang dan percaya begitu saja. Buddha mengingatkan kita untuk tidak percaya begitu saja terhadap apapun secara membuta, bahkan terhadap ajaran Buddha itu sendiri.

4. Toleransi
Teladan yang luar biasa dari toleransi umat Buddha ditunjukkan oleh Raja Asoka yang bijaksana. Demikian pula yang tertera dalam Kalama Sutta, agar kita untuk menghormati agama atau kepercayaan lain. Dengan demikian seseorang juga sama dengan menghormati agamanya untuk tumbuh, sekaligus memberikan pelayanan bagi agama lain. Selain itu Buddha juga mengajarkan  agar kita selalu menghormati guru yang terdahulu meskipun sekarang telah mencapai kesuksesan.

5. Tanpa kekerasan
Dalam perkembangannya di Negara manapun, tidak ada sejarah bahwa agama Buddha masuk dengan menggunakan kekerasan. Buddha mengajarkan: Ia yang membenci akan menuai kebencian dan yang kalah menuai hidup sengsara. Barang siapa yang tidak mencari kemenangan dan kekalahan akan berbahagia dan damai. Buddha mengajarkan Metta (cinta kasih universal). Buddha tidak hanya mengajarkan kedamaian tanpa kekerasan, namun jauh daripada itu. Barangkali Buddha adalah satu-satunya guru yang pergi ke medan pertempuran untuk mencegah terjadinya perang.

6. Peduli akan kesejahteraan ekonomi
Buddha, memandang bahwa kedua jenis kelamin memiliki hak yang seimbang, adalah guru pertama yang memberikan kebebasan penuh bagi perempuan untuk turut serta dalam kehidupan beragama. Sikap beliau yang memperbolehkan perempuan untuk memasuki sagha Bhikkhuni, merupakan hal yang bersifat radikal pada zaman itu. Selain itu Buddha juga peduli terhadap kesejahteraan para umat awam karena kemapanan ekonomi sampai tingkat tertentu dapat menunjang pengembangan spiritual umat dan bhikkhu. Buddha tidak menghalangi seseorang mencapai kebahagiaan duniawi, tetapi Beliau mengingatkan agar berhati-hati dalam menggunakan materi agar tidak terjadi pelanggaran aturan dasar moralitas.

​Dalam sejarah perkembangan agama Buddha di Indonesia, terlihat bahwa tradisi agama Buddha berpengaruh terhadap kebudayaan Indonesia, di antaranya agama Buddha menghantarkan nusantara menjadi Negara kesatuan yang besar yaitu Sriwijaya dan Majapahit. Selain itu tradisi Buddhis meninggalkan situs-situs candi yang terkenal sampai sekarang di antaranya Candi Borobudur,  Candi Muara Takus, dan lain-lain. Adanya sinkretisme ajaran Siwa Buddha pada zaman kerajaan di Jawa Timur.  Dari sedikit bukti-bukti di atas menunjukkan bahwa agama Buddha sama sekali tidak mengajarkan umatnya untuk meninggalkan kearifan lokal, tapi justru mendukung kelestarian kearifan lokal agar selalu terjaga dan nilai-nilai luhurnya dapat menjadi bekal hidup untuk masyarakat luas.

​Memaknai korelasi antaraagama Buddha dan budaya kearifan lokal, budaya juga turut berperan membentuk dasar-dasar etika yang mampu mengatur tatanan hidup masyarakat adat, yang mengandung pesan moral yang kuat, ajakan berlaku baik, disiplin  demi menjauhkan kita dari resiko yang lebih serius, meskipun kadang dihubung-hubungkan pada peristiwa gaib dan kadangkala kita tidak bisa menalarkan-nya dengan akal. Tapi pada garis besarnya, kearifan lokal bermaksud mengharmonis-kan hidup manusia dengan alam, saling menjaga, dan ada rasa penghormatan atas makhluk-makhluk yang ada di bumi selain manusia (dalam kamus ilmiah populer, dogma: pokok ajaran agama yang harus diterima dan diyakini kebenarannya), sesuatu yang harus dilaksanakan, karena itu perintah dari Agama, dan budaya itu berperan dalam pembentukan karakter manusia. Dan kita, sebagai masyarakat yang berbudaya, jangan sampai melupakan jasa-jasa para pendahulu kita.