Buddha…, Sumber Inspirasi Kehidupan

Y.M. Bhikkhu Abhayanando, Thera

Lautan yang dahsyat, bumi yang luas, puncak gunung atau angin, bukanlah perumpamaan yang memadai untuk melukiskan dahsyatnya kebebasan yang dicapai oleh Sang Guru.
(Theragatha. 1013)

Sang Guru
Nan jauh di India Utara lahir seorang anak manusia yang luar biasa. Seorang anak manusia yang akan menggoncangkan dunia bukan karena kesaktian yang dahsyat tetapi usaha-Nya untuk terbebas dari belenggu dukkha/derita. Beliau melakukan itu bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk semua makhluk sehingga kita semua ada harapan untuk terbebas dari belenggu ketidakpuasan batiniah. Siddhatta, yang artinya tercapailah cita-citanya adalah nama pemberian orang tuanya. Sebuah nama yang memiliki makna yang dalam dan penting yang kelak akan membuat semua makhluk berguru pada-Nya.

Kelahiran bayi Siddhatta amatlah penting bagi kehidupan manusia. Karena kelak Beliaulah yang menunjukkan jalan terang bagi semua makhluk untuk terbebas dari belenggu kegelapan batin. Jika dikaji cita-cita tersebut merupakan cita-cita yang luar biasa dan sangat jarang manusia memiliki cita-cita luhur seperti Beliau. Dikatakan luar biasa karena cita-cita tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Untuk meraih harapan tersebut membutuhkan perjuangan yang luar biasa pula.

Perjuangan Beliau menggapai cita-cita sesungguhnya berawal dari ketika Beliau terlahir menjadi Petapa Sumedha. Pada waktu itu, Petapa Sumedha bertekad dihadapan Buddha Dipankara. Sejak bertekad dan direstui oleh Buddha Dipankara, Beliau berjuang terus-menerus mengembangkan sepuluh Paramita dengan sempurna. Perjuangan yang Beliau lakukan tidak hanya hitungan hari tapi kappa. Bukan hanya satu kappa tapi ribuan kappa Beliau menyempurnakan Paramita yang menjadi dasar perjuangan untuk menjadi Sammāsambuddha.

Bukan hanya materi yang dikorbankan tetapi juga anggota tubuh dan bahkan kehidupannya. Sebuah perjuangan yang tidak mudah dilakukan oleh sembarang orang. Kadangkala ketika kita harus mengorbankan materi saja tidak mudah dilakukan apalagi anggota tubuh atau kehidupan kita demi kepentingan orang lain bahkan makhluk lain. Manusia seperti kita mudah menyerah ketika harus dihadapkan dengan tantangan seperti pikiran buruk, kemalasan, ketakutan, dan keraguan. Namun seorang Bodhisatta tentu berbeda dengan kualitasnya dibandingkan dengan diri kita. Seorang Bodhisatta memiliki tekad yang luar biasa dan dapat dikatakan sempurna. Oleh karena itu, tantangan apa pun tidak pernah membuat seorang Bodhisatta surut dalam menyempurnakan Paramita. Kesempurnaan Paramita/kebajikan itulah yang mendasari keberhasilan perjuangan untuk terbebas dari belenggu dukkha atau ketidakpuasan batin.

Akhirnya perjuangan yang luar biasa itu membuahkan hasil yang luar biasa pula. Pada saat purnama sempurna di bulan Waisakha Beliau meraih kemenangan yang gemilang dan menjadi Buddha. Buddha adalah manusia yang sudah sadar. Buddha adalah manusia yang sempurna pengetahuan dan tindak-tanduk-Nya. Seorang Buddha sudah terbebas dari belenggu keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin. Tidak ada lagi hal-hal buruk yang dilakukan oleh Buddha. Apa yang dilakukan sesuai dengan apa yang dikatakan, apa yang dikatakan sesuai dengan apa yang dilakukan. Sungguh luar biasa menjadi pemenang sejati dalam kehidupan ini.

Masa Bersumbangsih
Setelah menjadi Buddha, dengan cinta dan welas asih Buddha mengembara membabarkan kebenaran sejati. Sebuah keputusan yang membutuhkan ketulusan dan kesungguhan hati. Apa yang sudah dicapai melalui perjuangan yang panjang tidak membuat Beliau berhenti berjuang. Oleh karena itu, Buddha mengambil langkah untuk membabarkan Dhamma kepada semua makhluk. Sumbangsih yang akan dilakukan tentu tidak mudah dilakukan dan dengan dasar cinta, kasih, dan kesabaran yang membuat perjuangan itu tidak berhenti. Sumbangsih Beliau terhadap kehidupan ini dan semua makhluk tidaklah sia-sia karena banyak di antara siswa-siswa-Nya yang berhasil mencapai pencerahan seperti yang Buddha capai. Selama empat puluh lima tahun Beliau mengembara dan tentunya banyak mengalami pahit dan manisnya pengabdian, namun Beliau adalah figur yang penuh semangat dan selalu menjunjung tinggi kesabaran sehingga walaupun Beliau mengalami kesulitan tidak ada kata putus asa.

Selama bersumbangsih, banyak para siswa yang berhasil merealisasi kebenaran dan keberhasilan. Dalam membabarkan kebenaran, Buddha tidak pernah menggunakan paksaan dan tindakan kekerasan lainnya. Dalam mengabdi, Beliau juga tidak pernah membeda-bedakan ras, suku, golongan, status ekonomi, dan perbedaan lainnya. Siswa-siswa Beliau berasal dari segala lapisan, ibarat samudera yang menampung berbagai air dari aliran sungai yang berbeda. Demikian luhurnya sikap Sang Buddha, jarang tokoh yang memiliki pandangan seperti ini dan dapat memahami perbedaan.

Pernah melintas sebuah pertanyaan dibenak saya, “Kenapa Sang Buddha bisa berhasil membabarkan Dhamma tanpa kekerasan dan banyak siswa Beliau yang kemudian mencapai pencerahan?” Setelah mempelajari kehidupan Sang Buddha dan ajaran yang Beliau sampaikan, ada rasa kagum yang luar biasa pada diri saya. Hal seperti ini seharusnya menjadi bahan yang harus direnungkan oleh setiap umat Buddha, supaya dapat meneladani apa yang telah diajarkan dan dilakukan oleh Sang Buddha.

Sang Buddha adalah guru sejati yang dapat dijadikan panutan dalam mengarungi kehidupan ini. Dalam bahasa Jawa kata “guru” dibentuk dalam dua kata yaitu; gugu artinya ditaati dan ditiru artinya dianut. Jadi kata guru mempunyai pengertian seseorang yang ditaati dan dianut atau dapat dicontoh baik dari apa yang diajarkan sampai pada pembawaan tingkah laku-Nya. Pengetahuan dan tindak tanduk Sang Buddha benar-benar sempurna dan hal inilah yang membuat banyak orang ingin berguru pada Buddha Gautama. Apa yang Beliau ajarkan selalu sama dengan apa yang Beliau lakukan. Sulit menemukan sosok seperti Beliau.

Figur yang Menginspirasi
Salah satu faktor cepatnya Buddha Sāsana berkembang di India pada waktu itu adalah figur Sang Buddha yang benar-benar sangat istimewa. Dalam membabarkan Dhamma selalu dilandasi cinta, kasih sayang, dan kebijaksanaan sehingga orang yang mendengar dan melihatnya menjadi tertarik untuk mempelajari dan mempraktikkan Dhamma. Sebenarnya apa yang istimewa pada diri Sang Buddha? Adapun keistimewaan yang ada pada diri Buddha di antaranya adalah:

Suri tauladan sempurna bagi para pengikutnya. Guru yang dapat membuat muridnya juga dapat merealisasi Dhamma. Nilai-nilai luhur Sang Buddha yang menimbulkan daya tarik di antaranya cinta, kasih, dan kebijaksanaan Beliau yang sempurna.

Beliau mampu membabarkan Dhamma kepada masyarakat yang adat, tradisi, dan budayanya sangat kuat tanpa menggunakan paksaan dan tindak kekerasan.

Beliau adalah anak yang berbakti, terbukti Beliau juga dapat membuat orang tuanya merealisasi Nibbāna.

Dengan keistimewaan yang Sang Buddha miliki mampu membuat banyak orang tertarik pada Buddha Sāsana. Beliau tidak pernah mengobral janji-janji yang dapat membuat orang terlena. Orang tertarik Dhamma bukan karena janji tetapi karena Dhamma yang Beliau ajarkan memang sungguh agung dan luhur. Beliau tidak pernah mengatakan sebagai juru selamat tetapi Beliau berkata, “Tathāgata hanya penunjuk jalan, engkaulah yang harus merealisasi jalan.” Jalan sudah ditunjukkan oleh Sang Buddha tinggal kita yang harus berpartisipasi mempraktikkan Dhamma.

Walaupun Sang Buddha berhasil dalam pembabaran Dhamma, Beliau tidak angkuh dan mengajak orang untuk mendewakan dan menghormat secara berlebihan. Justru Beliau mengajak kita untuk melakukan penghormatan yang lebih tinggi dengan melakukan praktik Dhamma dan Vinaya. Pernah ada seorang bhikkhu yang tertarik menjadi bhikkhu karena terpesona dengan Sang Buddha. Kemudian Beliau mengingatkan bahwa untuk melihat Buddha harus melihat Dhamma. Artinya, untuk mendapatkan pencerahan seseorang harus benar-benar merealisasi Dhamma. Penuh hormat pada Sang Guru, hormat pada Dhamma dan Sańgha, memiliki kewaspadaan, mempunyai kebaikan dan kemauan baik; orang seperti ini tidak akan gagal, karena ia dekat dengan Nibbāna.” (Anguttara Nikāya. III. 331)

Dalam buku Three Greetest Men in History, H.G. Wells menyatakan “Dalam diri Sang Buddha, Anda melihat dengan jelas seorang manusia, sederhana, bajik, seorang diri berjuang untuk pencerahan, suatu pribadi yang penuh semangat, bukan suatu mitos. Ia juga memberi pesan segenap umat manusia. Banyak gagasan modern terbaik kita yang sangat selaras dengannya. Ajaran-Nya, semua kesengsaraan dan ketidakpuasan hidup disebabkan sifat mementingkan diri sendiri. Sebelum seseorang menjadi tenang, ia harus menghentikan nafsu indrawinya terlebih dahulu. Baru kemudian menjadi orang besar. Buddhisme dalam bahasa yang lain telah menghimbau untuk tidak mementingkan diri sendiri dua ribu lima ratus tahun yang lalu. Dalam beberapa hal ia lebih dekat dengan kita dan kebutuhan kita.”

Saat sekarang ini, sulit menemukan figur seperti Sang Buddha. Banyak pemimpin, tokoh masyarakat, dan manusia lainnya yang ingin menjadi orang besar dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan Dhamma. Mereka rela menghancurkan harga dirinya hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Tindakan seperti korupsi, kolusi, penipuan, dan penyimpangan lainnya banyak dilakukan orang hanya karena jabatan, kedudukan, kekayaan, dan kesenangan indrawi lainnya. Mereka lupa bahwa yang mereka cari sifatnya hanya sementara.

Marilah kita kembali kepada Dhamma dan figur sejati Sang Buddha. Walaupun Beliau menjadi terlahir di keluarga kerajaan, namun Beliau bukan tokoh yang gila akan kehormatan, jabatan, kedudukan, dan materi. Pangeran Siddhatta pada waktu itu meninggalkan semua kenikmatan yang ada. Pangeran Siddhatta kemudian mencari cara untuk meraih kebahagiaan sejati. Bagi sebagian orang apa yang dilakukan oleh Pangeran Siddhatta adalah suatu kebodohan akan tetapi bagi mereka yang memahami apa pun yang Beliau cita-citakan akan berpikir berbeda. Pangeran Siddhatta melakukan semua itu bukan kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan semua makhluk.

Sebagai seorang Buddhis seharusnya keteladanan Sang Buddha menjadi bahan rujukan untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak harus menjadi Pangeran Siddhatta atau Buddha tetapi setidak-tidaknya keteladanan tersebut bisa membuat kehidupan kita lebih baik dan berkualitas. Sifat Sang Buddha dapat dijadikan bahan perenungan dalam keseharian kita dan juga sebagai cermin bagi kita untuk mengarahkan diri sendiri pada kehidupan yang beradab dan bermartabat sesuai Ajaran Luhur Buddha. Teruslah berjuang dan jangan mudah untuk mengatakan mundur dalam berjuang. Ajaran luhur sudah ditunjukkan dengan terang dan jelas tanpa rahasia. Keteladanan pun sudah diperlihatkan oleh Buddha, oleh karenanya kita sebagai siswa mempunyai kewajiban untuk mengarahkan diri kita pada jalan tersebut dan Buddha menjadi sumber inspirasi ketika kita melakukan perjalanan menuju tujuan luhur semua makhluk yaitu kebahagiaan sejati.

Daftar Pustaka:
• Keyakinan Umat Buddha; Bhikkhu Sri K Dhammananda
• Permata Dhamma yang Indah; Ven S Dhammika