KISAH MAHĀKĀLA THERA

Y.M. Bhikkhu Gunapiyo

Subhānupassiṁ viharantaṁ indriyesu asaṁvutaṁ bhojanamhi amattaññuṁ kusītaṁ hīnavīriyaṁ taṁ ve pasahati māro vāto rukkhaṁva dubbalaṁ.(Dhammapada 7)

Asubhānupassiṁ viharantaṁ Indriyesu susaṁvutaṁ Bhojanamhi ca mattaññuṁ saddhaṁ āraddhavīriyaṁ taṁ ve nappasahatī māro vāto selaṁva pabbataṁ(Dhammapada 8)

Māra dapat menguasai ia yang memandang indah objek-objek, tidak berpengendalian, tidak berukuran dalam hal makan, malas, dan bersemangat rendah, bagaikan angin dapat menumbangkan pohon rapuh.

Sebaliknya, māra tidak dapat menguasai ia yang memandang tidak indah objek-objek, berpengendalian indera, berukuran dalam hal makan, berkeyakinan, dan bergairah semangat, bagaikan angin tidak dapat mengusik gunung cadas.

Satu kisah yang dimulai dari Kota Setavyā. Kota yang memiliki hutan bernama Siṁsapā. Suatu hari saat Guru Agung Buddha Gotama beserta para muridnya melakukan perjalanan, tiba dan singgah di tempat tersebut, Hutan Siṁsapa, Kota Setavyā. Saat itu juga Mahākāḷa Thera dan Cūḷakāḷa Thera yang berasal dari Kota Setavyā ikut serta dalam perjalanan. Mahākāḷa Thera adalah salah satu dari tiga bersaudara, yaitu Mahākāḷa, Majjhimakāḷa, dan Cūḷakāḷa. Mahākāḷa dan Cūḷakāḷa yang sedang melakukan perjalanan dari Setavyā menuju Sāvatthi, berkesempatan mendengarkan ceramah Buddha, dan kemudian bergabung dengan Saṅgha menjadi bhikkhu.

Ketika itu saat Buddha dengan murid-murid-Nya sedang berdiam di sana, mantan istri-istri Cūḷakāḷa mengundang Buddha beserta murid-murid Beliau ke rumah mereka untuk menerima dana makanan. Cūḷakāḷa sendiri terlebih dulu pulang untuk menyiapkan tempat duduk bagi Sang Buddha dan murid-murid-Nya. Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh mantan istri-istri Cūḷakāḷa untuk merayunya, agar ia mau kembali kepada mereka. Pada dasarnya Cūḷakāḷa memang tidak tekun dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajibannya sebagai bhikkhu. Mendengar berbagai rayuan dan rangsangan, batinnya tidak kuat. Nafsunya tergugah, tanpa pikir panjang lagi dilemparkan jubahnya dan kembalilah ia kepada kehidupan duniawi, sebagai perumah tangga.

Melihat para istri Cūḷakāḷa berhasil mendapatkan suaminya kembali, para istri Mahākāḷa pun tidak mau kalah. Pada hari berikutnya, mantan istri-istri Mahākāḷa mengundang Buddha bersama murid-murid-Nya ke rumah mereka, dengan harapan mereka dapat melakukan hal yang sama terhadap Mahākāḷa. Setelah berdana makanan, mereka meminta kepada Buddha untuk membiarkan Mahākāḷa tinggal sendirian untuk melakukan pelimpahan jasa. Buddha mengabulkan. Bersama murid-murid lain Beliau meninggalkan tempat tersebut.

Sewaktu tiba di pintu gerbang dusun, para bhikkhu mengungkapkan kekhawatiran dan keprihatinan mereka. Mereka merasa khawatir karena Mahākāḷa telah diizinkan untuk tinggal sendiri. Mereka merasa takut kalau terjadi sesuatu, seperti Cūḷakāḷa saudaranya, sehingga Mahākāḷa juga akan memutuskan untuk meninggalkan pasamuan bhikkhu, kembali hidup bersama mantan istri-istrinya.Terhadap hal ini, Buddha menjelaskan bahwa kedua saudara itu tidak sama. Cūḷakāḷa masih menuruti kesenangan nafsu keinginan, malas, dan lemah; dia seperti pohon lapuk. Mahākāḷa sebaliknya. Tekun, mantap, dan kuat dalam keyakinannya terhadap Buddha, Dhamma, dan Saṅgha; dia seperti gunung. Kemudian Buddha membabarkan syair Dhammapada 7 dan 8.

PEMBAHASAN
Salah satu orang yang mudah terkalahkan di dunia ini adalah orang yang malas dan bersemangat rendah. Berbicara tentang malas dan semangat, dua hal ini adalah penting. Semangat penting untuk dimiliki, dan malas penting ketika tidak dimiliki. Viriya memiliki arti semangat, upaya, atau ketekunan. Ketika seseorang tidak lagi memiliki semangat dan ketekutan di dalam hidup ini, ia akan mudah dikalahkan. Bukan hanya dikalahkan oleh orang lain, melainkan mudah dikalahkan oleh keadaan. Sering sekali kita mendengar “orang tersebut kalah oleh keadaan”, kalah oleh keadaan berarti ia tidak mampu bergerak untuk melawan apa yang sedang ia alami, dalam hal ini adalah keterpurukan, kesedihan, atau penderitaan yang dialami.

Banyak orang gagal karena ia kalah oleh keadaan, karena malas dan bersemangat rendah. Melihat latar belakang munculnya syair Dhammapada 7 dan 8, Bhikkhu Cūḷakāḷa, Thera pun kalah oleh keadaan, ia kalah oleh nafsu indra karena tidak tekun dalam latihannya. Itulah sebabnya kenapa viriya – semangat atau ketekunan menjadi penting dalam latihan seorang bhikkhu, bukan hanya bhikkhu, tetapi penting juga dalam kehidupan seorang perumah tangga.

Viriya sebagai faktor pencapaian kebahagiaan/keberhasilan
Dalam Aṅguttara Nikāya, Dīghajāṇusuttaṃ (A.IV.280) dikatakan salah satu faktor yang dapat menuntun seseorang pada pencapaian kebahagiaan adalah Uṭṭhānasampadā atau usaha gigih. “...apapun dengannya seseorang perumahtangga, mencari kehidupannya..., ia terampil dan tekun....” Usaha gigih atau ketekunan adalah awal dari kesuksesan dan keberhasilan seseorang. Artinya, ketika seseorang mempunyai usaha gigih, penuh semangat dan tidak mudah putus asa, maka dengan usahanya sendiri juga tujuan yang diinginkan akan tercapai, dan ketika tujuan tersebut tercapai maka kebahagiaan dan kesejahteraan akan diperoleh.

Tetapi, perlu ditekankan dalam hal ini bahwa usaha gigih (Uṭṭhānasampadā) yang Buddha maksud adalah usaha gigih yang dibarengi dengan pandangan benar, tidak salah cara-caranya dan dilakukan dengan baik, seperti apa yang tertulis pada kutipan di atas. Lalu apa itu pandangan benar dalam usaha gigih? Di sini seseorang harus memiliki pandangan bahwa apapun yang dilakukannya harus dilakukan dengan sebaik mungkin atau terampil, tekun dan tentunya tidak merugikan orang lain, sehingga menimbulkan kebahagiaan bagi si pelaku dan orang yang berada di lingkungannya.

Viriya sebagai faktor pencerahan
Hubungan antara viriya dengan perhatian penuh dan kebijaksanaan, tercermin pada posisi dan peranan dalam lima indria, kemudian muncul juga hubungannya dalam tujuh faktor pencerahan. Di sini viriya muncul ketiga setelah, perhatian penuh dan pengamatan langsung dari fenomena-fenomena, Dhammavicaya. Sampai ketujuh faktor pencerahan itu tersusun, terangkai, dan terbangun, viriya sebagai faktor pencerahan membangun perhatian penuh dan pengamatan/penelaahan. Di sinilah viriya atau semangat, menjadi penting untuk menentukan atau melengkapi faktor-faktor pencerahan. Karena tanpa semangat atau usaha kuat, pencerahan akan sulit didapatkan.

Kesimpulan Ulasan
Di balik cerita latar belakang Dhammapada 7 dan 8, Buddha ingin menunjukkan bahwa ketika seorang bhikkhu, yang dalam latihannya bersemangat, tidak malas, maka ia tidak akan mudah goyah dalam latihannya. Demikian juga dengan seorang perumah tangga, kehidupan sejahtera, berkah-berkah, akan tercapai ketika ia tidak malas dan tidak bersemangat rendah di dalam usahanya, di dalam kehidupannya. Banyak di antara kita, yang ketika mendapatkan perolehan atas pengharapannya, menjadi terlena dan lupa, rasa malas tanpa disadari muncul. Berbeda ketika kita tidak memiliki materi apapun, atau belum mencapai perolehan tersebut, orang cenderung bersemangat, walaupun tak jarang ada mereka yang hanya ingin saja tapi malas berusaha. Perolehan yang kita miliki sekarang ini, hendaknya digunakan dengan baik, dan dijadikan alat motivasi untuk bekerja, dan melakukan sesuatu untuk hal lainnya.

Referensi
Bodhi, Bhikkhu. 2012. The Numerical Discourses of the Buddha (A Translation of Aṅguttara Nikāya). Wisdom Publication: Boston. Tim Penyusun.2009. Encyclopaedia of Buddhism Vol VII. Departemen of Buddhism Affairs, Ministry or Religious Affairs, Srilanka.