Taiwan Naga Kecil Asia

Mengunjungi Tempat Religius dan Bersinergi dengan Alam

Rosmeili Firdaus

Kali ini saya hanya seorang diri berangkat berpetualang, solo traveling namanya. Seringkali kita berpikir bahwa solo traveler akan selalu seorang diri bila bepergian. Jauh dari mana-mana, tidak punya teman, merasa asing di tempat baru dan tidak ada orang yang kita kenal untuk meminta bantuan apabila diperlukan. Solo traveling tidak akan pernah benar-benar sendiri apabila kita berani berinteraksi dan mau berkomunikasi dengan orang-orang baru. Dengan berinteraksi kita akan bertemu dengan teman baru yang akan menemani kita selama perjalanan, tentunya akan memberi kemudahan untuk mengunjungi tempat-tempat yang akan kita tuju. Saya bertemu Fah, seorang perempuan dari Vietnam di hostel tempat saya menginap. Fah sering melakukan solo traveling, dia juga pernah mengunjungi Flores. Kami banyak bertukar informasi tentang traveling. Banyak sekali jadwal perjalanan Taiwan, setelah sharing dengan saya akhirnya Fah memutuskan ke Kaoshiung mengikuti rute saya.

Fo Guang Shan Monastery "Gunung Terang Buddha" Perjalanan ke Kaoshiung memakan waktu hampir 2 jam dari Taipei dengan THSR (Taiwan High Speed Rail) Bullet Train Taiwan. Rute Taipei-Zuoying (THSR Station di Kaohsiung) adalah rute terjauh dari THSR, dan untuk rute ini harga sekali jalannya adalah NTD 1490 (sekitar IDR 655.600). Tujuan saya ke Kaoshiung karena ingin sekali mengunjungi Fo Guang Shan Monastery (Gunung Terang Buddha). Fo Guang Shan Monastery merupakan kompleks yang sangat luas, di dalamnya terdapat tempat pendidikan bagi para bhiksu dan bhiksuni Buddha, asrama siswa, kuil, museum, kompleks pemakaman, serta patung Buddha raksasa, dan taman-taman yang asri. Di tempat ini kita bisa langsung melihat kehidupan para bhiksu dan bhiksuni Buddha dalam keseharian. Letak Fo Guang Shan Monastery sendiri agak sedikit di luar wilayah Kota Kaoshiung, lokasinya sangat luas berada di atas bukit. 

Dari station Formosa Boulevard, saya menuju Kaoshiung Main Station MRT dan berpindah ke terminal bus/halte yang letaknya di samping Stasiun MRT. Halte bus yang langsung menuju Fo Guang Shan Monastery yaitu bus no. 8010/8011 dengan harga tiket sebesar NTD 91 dengan perjalanan yang ditempuh kurang lebih satu jam menuju ke sana. Masuk kompleks Fo Guang Shan Monastery tidak dipungut biaya masuk.

Suasana di Fo Guang Shan ini benar-benar sunyi dan damai. Hanya keheningan yang mewarnai suasana di dalamnya karena setiap pengunjung disarankan untuk tidak membuat suara gaduh dan berisik. Disediakan kendaraan kecil gratis untuk berkeliling kompleks namun saya memilih untuk berjalan kaki agar puas menikmati setiap spot yang ada.

Di Fo Guang Shan Monastery terdapat patung Buddha setinggi 25 meter. Jaraknya sekitar 1-2 km perjalanan dari Spring Autumn Pavillion. Lokasinya yang berada di atas bukit dengan struktur bangunan yang sebagian besar terbuat dari batu marmer. Di pintu masuk kita akan disambut dengan bangunan menyerupai mall dengan toko-toko yang menjual Jamur Lingzhe, mochi dengan berbagai rasa, tumbuhan herbal, keripik jamur, dan berbagai obat-obatan serta Coffee Shop.

Menuju ke patung Buddha tersebut kita akan disambut dengan lapangan yang sangat luas dengan delapan pagoda di sebelah kiri dan sebelah kanan, kemudian di tengah-tengahnya terdapat patung Buddha setinggi 25 meter. Saya mengambil kesempatan berharga ini untuk bermeditasi dan berpradaksina.

Jika cuaca panas atau hujan, untuk menuju patung Buddha di sebelah kiri dan sebelah kanan disediakan koridor beratap yang sepanjang dindingnya dipahat di atas marmer kisah-kisah Buddha dan nama-nama orang yang menyumbang pembangunan kuil tersebut. Lokasi ini wajib dikunjungi baik untuk wisatawan rohani maupun untuk umum. Di dalam kompleks ini terdapat relief kisah hidup Siddhartha Gautama dari kelahiran sampai parinibbāna. Kisah Buddha Gautama juga disajikan dalam bentuk film animasi 3D. Sebagai informasi, restoran dan kantin di kompleks ini hanya menyajikan makanan vegetarian. Dan juga tersedia penginapan untuk pengunjung dari luar kota, jika kita ingin menginap harus daftar dan meminta izin kepada kepala bagian yang mengurusnya.

Di Taroko National Park, terdapat jalur tebing curam sepanjang 19 km yang dapat Anda lewati, menjadi sebuah perjalanan menarik sekaligus menguji adrenalin Anda di negeri Taiwan. Taroko National Park menjadi tempat yang sangat ideal bagi Anda yang ingin menikmati suasana alam yang sejuk dan menyegarkan. Jarak tempuh dengan Kereta TRA (Taiwan Railways Administration) selama 3 jam dari Taipei. Taman Nasional Taroko atau Taroko National Park merupakan satu dari delapan taman nasional yang ada di Taiwan, dan merupakan primadona pariwisata yang sangat terkenal di Taiwan. Lokasinya membentang antara Taichung, Nantou, hingga Hualien.

Pada mulanya taman ini bernama Tsugitaka–Taroko National Park, didirikan oleh Pemerintahan Kekaisaran Jepang di Taiwan oleh Gubernur Jenderal Taiwan pada tanggal 12 Desember 1937. Namun kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, Taiwan dikuasai oleh Partai Nasional. Pada tanggal 15 Agustus 1945 taman ini ditutup, hingga kemudian dibuka kembali pada tanggal 28 November 1986.

Nama “Taroko” berasal dari bahasa Truku (salah satu suku asli di Taiwan) yang memiliki arti “megah dan indah”. Pada zaman dahulu, salah satu orang suku Truku melihat keindahan tempat ini, karena terharu oleh keindahannya beliau menangis dan menyebut “Taroko”, hingga akhirnya kata tersebut menjadi nama lokasi ini.

Taroko terkenal dengan ngarai sepanjang 19 km dan tebing marmernya, kita bisa melihat keindahan yang sungguh luar biasa di sini. Kekuatan alam membentuk ngarai dan tebing di Taroko menjadi beragam rupa. Selain marmer, Taroko juga terkenal dengan batu gioknya dan dari sinilah pasokan batunya dikirimkan ke pasar giok di Hualien.

Untuk berkunjung ke Taroko, pertama-tama kita bisa naik kereta sampai stasiun kereta Sincheng (sekitar 2 stasiun sebelum Hualien City). Kemudian perjalanan bisa dilanjutkan dengan bus yang berhenti di beberapa halte di dalam Taroko, seperti; Tzuchi Vihara, Sincheng Taroko Station, Taroko Visitor Center (tempat parkir), Shakadang, dan Buluowan. Perjalanannya sekitar 2 jam sampai pemberhentian terakhir di Tiansiang, biayanya sekitar 170 NTD (sekitar 75 ribu rupiah, kurs saat itu 1 NTD 441 rupiah). Cara lain untuk ke Taroko dari stasiun kereta Hualien atau Xincheng dengan menyewa taksi. Biaya sewa taksi sekitar 500 NTD per jam (minimal perjalanan 5 jam) atau 3.000 NTD per 7 jam. Satu taksi bisa muat 4 orang, biaya taksi bisa patungan. Dengan menyewa taksi, pengunjung bisa berkunjung dan berhenti di berbagai tempat yang menarik di sepanjang Taroko Park. 

Beberapa lokasi di Taroko yang direkomendasikan untuk dikunjungi antara lain:
- The Eternal Spring Shrine
- Buluowan
- Swallow Grotto & The Tunnel of Nine Turns
- Shakadang Trail

Di antara keempat tempat tersebut, yang menarik adalah The Eternal Spring Shrine yaitu sebuah kuil dan paviliun yang dibawahnya dilewati air terjun. Di dalam gunung batu ini terdapat monumen untuk mengenang jasa 226 orang veteran perang yang meninggal pada saat pembangunan jalan Central Cross-Island Highway pada kurun waktu 1956-1960. Shrine ini dipakai untuk menghormati/ mengingat jasa-jasa yang gugur tertimpa longsor saat membangun jalanan Cross-Island Highway menembus pegunungan ini. Lokasi pemberhentian atau parkir mobil agak jauh, jadi kita akan jalan kaki menuju shrine ini. Dari situ kita bisa melanjutkan mendaki dan menyusuri tangga batu melihat gua-gua. Saya melakukan pelimpahan jasa untuk para pahlawan pembangunan jalan tersebut.

Yehliu berada di Utara Taiwan, dekat dengan Taipei. Karena perjalanan hanya memakan waktu 1.5 jam dengan bus, kita bisa melakukan wisata satu harian. Yehliu Geopark yang terletak di Kota Wanli, untuk menyaksikan keindahan dan keajaiban yang tercipta di sana. Yehliu Geopark merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika mengunjungi Taiwan. Untuk pergi ke Yehliu sangat mudah, Taipei West Bus Terminal yang terletak persis di samping Taipei Main Station, tinggal jalan menuju Taipei West Bus Station. Banyak loket pembelian tiket bus. Bus Kuo-Kuang Bus No. 1815, yang berangkat setiap 20 menit sekali. Tiket bus dari sini NT$96 (sekitar 42 ribuan rupiah).

Perjalanan berkelok-kelok dengan hamparan pemandangan di samping kanan terlihat lautan, dan bersiap-siaplah karena tak lama lagi akan sampai di Yehliu. Bus berhenti di pertigaan jalan kecil dan penumpang harus berjalan kaki sekitar 15 menit menuju lokasi. Saya membuntuti rombongan wisatawan dari Kuala Lumpur ke lokasi Yehliu. Sepanjang jalan ke lokasi Yehliu banyak deretan ruko-ruko yang menjual seafood, sementara di samping kirinya merupakan dermaga kapal-kapal nelayan cukup besar, pemandangan yang sangat menarik. Saya melihat salah satu pelaut sedang memasak mie instan yang logonya dari Indonesia, “Apa kabar, Pak?” saya menyapa salah satu pelaut dengan bahasa Indonesia, Mereka menjawab “Baik, Non!” sambil tersenyum. Setelah hampir 10 menit, tibalah saya di lokasi loket karcis Yehliu. Harga karcis untuk masuk ke Geopark ini seharga NT$80 (sekitar 35 ribuan rupiah).

Bentuk Yehliu Geopark ini seperti semenanjung panjang yang menjorok ke laut, sepanjang 1.700 meter. Nanti di ujungnya juga ada sebuah bukit kecil, Anda bisa naik untuk melihat pemandangan sekitar dan hamparan laut lepas. Begitu menapak lebih dalam, di jalanan setapak yang dibuat dengan rapi terlihatlah batu-batuan yang telah terkikis indah oleh alam dan air laut, membentuk sebuah ladang batu dengan bentuk-bentuk unik. Ada sekitar 22 bentuk batu karang yang menyerupai berbagai bentuk yang diberi nama di antaranya Carp Rock, Candle Rock, Ice Cream Rock, Cute Princess, Ginger Rock, Mushroom Rock, Queen’s Head, Elephant Rock, Fairy’s Shoe, dan Earth Rock. Taman batu ini memang terlihat bagai tumbuh di sebuah gurun, karena warna dasar batuan di bawahnya juga kecoklatan. Dari bentuknya pun akhirnya mereka diberi nama. Ada Gorilla rock, karena memang terlihat seperti gorila, Fairy’s Shoes, kalau dilihat dari atas berbentuk seperti sebuah sepatu sandal, Mushroom Rock dan yang paling kondang adalah Queen’s Face, karena dari satu sisi tertentu, batu ini memang terlihat anggun bagaikan tampak samping wajah seorang ratu.

Di setiap batu karang diberi garis pembatas berwarna merah yang tidak boleh dilalui oleh pengunjung. Juga di semua batu karang yang ada tidak boleh disentuh. Larangan ini bertujuan untuk melindungi situs tersebut. Dan di lokasi Yehliu Geopark ini disebar puluhan petugas yang mengawasi setiap batu karang, untuk mengingatkan pengunjung agar tidak melanggar larangan tersebut. Perlu waktu beberapa jam untuk menjelajahi Yehliu Geopark ini dari ujung ke ujung karena di setiap perhentian kita harus menyediakan waktu yang cukup lama untuk mengagumi serta menikmati keindahan batu karang yang ada. Saya terkagum-kagum melihat pemandangan alam ini, kemudian saya membacakan Paritta Karaṇīya Metta Sutta dan hening sejenak di pinggir laut lepas ini.