Menuju Kesuksesan Spiritual dengan Bebas dari Lima Ketakutan

Aṭṭhasīlanī Gunanandi

Sace labheta nipakaṁ sahayaṁ, saddhiṁ caraṁ sādhuvihāridhiraṁ Abhibhuyya sabbāni parissayāni, careyya tenattamano satīma.

Apabila seseorang berhasil bertemu dengan orang yang berkelakuan baik, bijaksana, maka Anda harus bergaul dengannya, sehingga Anda akan hidup berbahagia dan berhati-hati mengatasi semua mara bahaya. (Dhammapada, syair 328)

Saya tidak tahu harus memulai dari mana menulis artikel ini, ketika pihak Warta Dharma Ratna meminta saya untuk membuat satu artikel bertema “Semangat untuk Mencapai Kesuksesan Spiritual”, saya begitu saja menerimanya. Namun kemudian terbersit pertanyaan dalam diri saya, “Memang kamu sudah sukses secara spiritual?”, dengan jujur diri saya menjawab, “belumlah”. Artikel ini sungguh penting dibaca, dan pembaca perlu menyimak dengan baik ketika membacanya. Saya tidak sembarangan menulis hal ini, dan sekalipun saya belum sukses secara spiritual dalam standar saya, tapi saya punya keyakinan dengan segala usaha yang saya upayakan, berbekal dengan keyakinan pada pengetahuan dan pencapaian kesuksesan spiritual Guru Agung Buddha, saya yakin setiap orang bisa sukses secara spiritual.

Bagi saya tidak ada orang selain para Buddha dan mereka yang sungguh-sungguh sadar sepenuhnya yang memenuhi standar kesuksesan spiritual tertinggi. Ini bukan sebuah ekspektasi yang berlebihan, namun ini adalah hal yang bisa setiap orang upayakan jika mereka mau dan mampu berjuang sungguh-sungguh. Saya katakan “jika”, karena apabila seseorang tidak ada keyakinan dan usaha pada kesuksesan yang diharapkan maka adalah mustahil kesuksesan itu dapat dicapai, hal ini berlaku pada setiap kesuksesan yang diinginkan, termasuk kesuksesan spiritual.

Pertanyaan yang sering ada dan muncul di masyarakat adalah berkenaan dengan “Mungkinkah saya bisa sukses dalam spiritual?” Tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan itu selain diri kita sendiri. Jika seseorang di dunia ini masih diliputi rasa takut untuk tidak bisa sukses, artinya orang ini belum memiliki keyakinan pada kemampuannya dan kekuatan yang ada dalam dirinya yang dapat dikembangkan secara maksimal. Kenapa hal ini bisa terjadi, karena dalam diri seseorang selalu diliputi oleh ketakutan akan kegagalan. Dalam ulasan Petikan Aṅguttara Nikāya (IX,5), Sang Buddha memberikan penjelasan berkenaan dengan lima jenis ketakutan yang dihadapi oleh seseorang. Lima ketakutan ini adalah:
1. ketakutan akan kehidupannya,
2. ketakutan akan nama buruk,
3. ketakutan akan rasa malu di depan umum,
4. ketakutan akan kematian, dan
5. ketakutan akan masa depan yang tidak bahagia.

Lima jenis ketakutan ini selalu muncul dalam diri seseorang jika orang tersebut tidak mengembangkan empat macam kekuatan dalam dirinya.

Lebih lanjut Sang Buddha juga menguraikan tentang empat jenis kekuatan yang digunakan untuk menghadapi dan mengatasi lima ketakutan tersebut, empat jenis kekuatan itu adalah:
1. kekuatan kebijaksanaan,
2. kekuatan semangat,
3. kekuatan kehidupan yang tidak ternoda, dan
4. kekuatan kebaikan hati.
Empat kekuatan inilah yang menjadi jalan seseorang bisa meraih kesuksesan dalam kehidupan spiritual, minimal orang tersebut akan bebas dari rasa takut akan kehidupan spiritual yang dijalaninya.

Mengapa empat kekuatan ini penting untuk dikembangkan dalam diri seseorang, karena jika empat kekuatan ini berkembang dan dimiliki dalam diri seseorang maka ia akan bebas dari lima jenis ketakutan, dan meninggalkan lima jenis ketakutan akan kehidupan, nama buruk, rasa malu, kematian, dan masa depan yang tidak bahagia.

Bagaimanakah empat kekuatan ini dijelaskan?
1. Kekuatan Kebijaksanaan
Sang Buddha mengatakan, “Apakah O Para Bhikkhu, kekuatan kebijaksanaan itu?” Jika dalam diri seseorang mempertimbangkan dengan baik dan melihat dengan jelas mengenai hal-hal yang tidak bajik dianggap sebagai hal-hal yang tidak bajik, mengenai hal-hal yang bajik dianggap sebagai hal-hal yang bajik, yang tak tercela dianggap sebagai hal yang tak tercela, yang tercela dianggap sebagai hal yang tercela, yang gelap dianggap sebagai hal yang gelap, yang terang dianggap sebagai hal yang terang, yang cocok dilatih dianggap sebagai hal yang cocok dilatih, yang tidak cocok dilatih dianggap sebagai hal yang tidak cocok dilatih, yang berharga bagi para mulia dianggap sebagai sesuatu yang berharga, yang tidak berharga bagi para mulia dianggap sebagai sesuatu yang tidak berharga. Seseorang hendaknya mampu melihat hal ini dengan jelas dan mampu mempertimbangkan hal ini dengan baik. Inilah yang disebut kekuatan kebijaksanaan.

2. Kekuatan Semangat
Bagaimanakah dengan kekuatan semangat? Mengenai hal-hal yang tidak bajik, tercela, gelap, tidak cocok untuk dilatih, yang tidak berharga bagi para mulia, dan yang dianggap demikian hendaknya seseorang mengerahkan usaha dan menggugah semangat untuk meninggalkan hal-hal ini. Dan mengenai hal yang bajik, yang tidak tercela, yang terang, yang cocok untuk dilatih, berharga bagi para mulia, dan yang dianggap sebagai demikian hendaknya seseorang membangkitkan keinginan dan mengerahkan usaha serta menggugah energi dalam mencapai semua hal-hal ini. Inilah yang disebut kekuatan semangat.

3. Kekuatan Kehidupan yang Tak Ternoda
Bagaimanakah dengan kekuatan kehidupan yang tak ternoda? Sang Buddha menjelaskan,”Di sini, para Bhikkku, seorang siswa mulia yang tak ternoda dalam perbuatannya, tak ternoda dalam ucapannya, dan tak ternoda dalam pikirannya. Inilah yang disebut sebagai kekuatan kehidupan yang tak ternoda. Jika seseorang hidup dengan perbuatan, ucapan, dan pikiran yang benar tanpa noda keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin maka di manapun ia berada, keberadaannya akan disenangi dan dicintai dan orang yang melatih dan mengembangkan kehidupan tanpa noda ini akan membantu seseorang untuk bebas dari segala bentuk ketakutan dalam kehidupannya.

4. Kekuatan Kebaikan Hati
Bagaimanakah dengan kekuatan kebaikan hati? Ada empat dasar kebaikan hati, yaitu: dengan pemberian hadiah, dengan ucapan yang bersahabat, dengan tindakan membantu, dan dengan pemberian kesetaraan. Hadiah yang terbaik adalah hadiah Dhamma. Ucapan bersahabat yang terbaik adalah mengajarkan Dhamma terus-menerus kepada mereka yang ingin mendengarkan dan yang mendengarkan dengan penuh perhatian. Tindakan membantu yang terbaik adalah membangkitkan, menjaga, dan memperkuat keyakinan pada mereka yang tidak memiliki keyakinan; membangkitkan, menjaga, dan memperkuat moralitas pada mereka yang tidak bermoral: membangkitkan, menjaga, dan memperkuat kedermawanan pada mereka yang kikir; membangkitkan, menjaga, dan memperkuat kebijaksanaan bagi mereka yang bodoh. Pemberian kesetaraan yang terbaik adalah jika seorang Pemasuk Arus menjadi setara dengan Pemasuk Arus; jika seorang Yang Kembali Sekali Lagi setara dengan Yang Kembali Sekali Lagi; jika seorang Yang Tidak Kembali Lagi setara dengan Yang Tidak Kembali Lagi dan; jika seorang Arahat setara dengan Arahat. Inilah para Bhikkhu yang disebut kekuatan kebaikan hati.

Seseorang yang memiliki empat kekuatan ini, akan berpikir: “Saya tidak memiliki ketakutan akan kehidupanku, ketakutan akan nama buruk, atau merasa malu di depan umum, tidak pula ketakutan akan kematian, dan akan nasib masa depan yang tidak bahagia. Mengapa saya harus memiliki ketakutan-ketakutan ini? Bukankah saya memiliki empat kekuatan kebijaksanaan, semangat, kehidupan tanpa noda, dan kebaikan hati? Hanya seorang dungu dan malas yang memiliki noda dalam perbuatan, ucapan, dan pikiran serta yang tidak memiliki kebaikan hati, orang seperti inilah yang mungkin memiliki semua ketakutan ini.” Demikianlah semua ini harus dipahami, bahwa siswa mulia yang memiliki empat kekuatan ini telah meninggalkan lima ketakutan.

Tidak cukup hanya kata-kata untuk membuat diri seseorang sungguh-sungguh bisa merasakan kedalaman dan kesejukan kolam air, selain terjun dan menyelam langsung di dalamnya. Sama halnya juga tidak cukup hanya teori kesuksesan yang bisa dibaca dan dipahami untuk membuat seseorang bisa menjadi sukses meraih apa yang dicita-citakan selain menyelami, menjalani, dan melatih diri untuk menjadi orang sukses sepenuhnya. Semoga para pembaca menjadi orang sukses dalam meningkatkan kualitas spiritualnya sesuai usaha dan upaya yang dilakukan. Semoga semuanya berbahagia.

Referensi:
- Ed. Jotidhammo, Bhikkhu. 2003.
- Petikan Aṅggutara Nikāya.
- Klaten: Vihara Bodhivamsa.
- Widya, Surya. 2005.
- Kitab Suci Dhammapada.
- Jakarta: Yayasan Dhammadipa Arama.w