Pentingnya Semangat Mencapai Kesuksesan Lahir dan Batin

Viriya Ungul

Viriya/Semangat
Semangat di dalam Dhamma dikenal dengan Viriya. Viriya ini mengandung makna bukan cuma energi bersemangat biasa saja, melainkan mengandung unsur ketekunan, daya tahan, serta pengorbanan yang heroik untuk mencapai satu tujuan mulia.

Semangat Sukses Duniawi
Dalam Cullaka-Seṭṭhi Jātaka No.4 dikisahkan, saat Brahmadatta memerintah di Kota Benares, Kasi, Bodhisatta terlahir di sebuah keluarga bankir. Setelah dewasa dikenal sebagai pria yang cerdas dan bijaksana. Satu hari, dalam perjalanan menemui raja, dia melihat bangkai seekor tikus tergeletak di jalan. Dia berkata, “seorang pemuda bermoral, dengan kecerdasannya, dia hanya perlu mengambil bangkai tikus itu dan memulai sebuah usaha serta menghidupi seorang istri.” Seorang pemuda baik yang miskin mendengar, diambillah bangkai tikus itu, ia menjual seharga seperempat keping mata uang pada pemilik sebuah kedai minum untuk kucingnya. Uang seperempat keping dibelikan sirup dari gula. Ia pergi ke hutan tempat para pengumpul bunga dan membagikan air minum dan sirup tersebut. Sebagai imbalannya setiap pengumpul bunga memberikan segenggam bunga padanya. Bunga tersebut dijual delapan keping uang.

Suatu hari terjadi hujan dan angin besar menghempas daun-daun, ranting, dan dahan-dahan di taman kerajaan. Pemuda ini segera membantu membersihkan dan mohon kepada penjaga taman kerajaan agar dapat memiliki daun ranting dan dahan yang dibersihkan tersebut. Dengan bantuan anak-anak yang sedang bermain di taman ia dapat menumpuknya di muka pintu taman.

Tumpukan tersebut dilihat dan dibeli oleh pembuat tembikar kerajaan enam belas keping uang, ditambah lima mangkuk dan beberapa tempayan. Kemudian dengan uang dua puluh empat keping ia pergi ke pintu gerbang kota dengan satu tempayan penuh air minum dan memberikannya kepada lima ratus pencari rumput. Dari masing-masing pencari rumput dia memperoleh seikat rumput dan memohon agar diizinkan menjual rumput yang diperolehnya itu lebih dahulu daripada para perumput. Saat itu, seorang pedagang kuda kebetulan sedang memerlukan rumput dan membelinya seribu keping uang.

Singkatnya uang bernilai seperempat keping telah berubah menjadi seribu keping dan setelah berdagang dan berusaha dalam empat bulan dia berhasil mengembangkan menjadi dua ratus ribu keping uang.

Untuk menunjukkan rasa terima kasihnya, ia pergi menemui bankir yang menasihatinya untuk mengambil dan menjual bangkai tikus dan memberikannya seratus ribu keping uang. Sang bankir (Sang Boddhisatta) serta merta menikahkan anak muda tersebut dengan putrinya. Ketika bankir meninggal dunia, pemuda tersebut menjadi bankir di kota itu.

Sejak kecil hingga dewasa, kita sering mendengarkan cerita-cerita motivasi seperti di atas agar dapat menumbuhkan semangat belajar dan berupaya dengan baik. Salah seorang motivator utama dan terbaik dalam hidup adalah orangtua. Mereka membangunkan dan mengantar kita ke sekolah. Para guru memperkenalkan dan melatih berbagai pengetahuan dan keterampilan. Para sahabat dan mentor berbagi pengalaman saat kita memasuki dunia kerja dan bisnis. Selama hampir 25 tahun setiap anak di persiapkan sekolah/belajar agar siap memasuki kehidupan dewasanya. Setelah memperoleh pekerjaan dan bisnis yang baik lalu berupaya untuk mencari pasangan hidup agar memiliki kehidupan dunia yang baik. Di setiap pencapaian yang kita sebut sebagai sukses; memerlukan usaha sungguh-sungguh dan pengorbanan.

Semangat dan Kondisi Batin
Semangat yang tinggi dalam pencarian sukses terlihat mendekatkan kita pada kesenangan (pleasure); senang memiliki apa yang diinginkan. Namun sayangnya kadang menjauhkan kita dari kebahagiaan (happiness); tidak puas/senang dengan apa yang sudah dimiliki. Semangat yang tinggi untuk suarakan kebenaran kadang bukan disuarakan dengan tegas dan penuh kasih, melainkan di teriakkan dengan keras dan penuh kebencian. Semangat untuk percaya diri malah keliru tumbuh menjadi egoisme dan kesombongan. Berupaya mengganti ego yang besar dengan percaya diri yang sehat; juga tetap keliru. Percaya diri yang didapat pada saat kita merasakan diri lebih baik dari yang lain menimbulkan kesombongan; bila merasa diri kalah dari yang lain akan timbul rasa minder dan rendah diri. Keduanya membuat kita menderita.

Bersemangat untuk meniru sukses orang lain begitu saja adalah hal yang tidak mungkin; karena kita senyata dan sunyatanya terlahir mewarisi talenta, bakat, karakter gen, dan karma yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Kammassakomhi, Kammadāyādo, Kammayoni, Kammabandhu, Kammapaṭisaraṇo,... “Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri, terwarisi oleh perbuatanku sendiri, lahir dari perbuatanku sendiri, perbuatan apapun yang akan kulakukan, baik ataupun buruk; perbuatan itulah yang akan kuwarisi. Kita bukan ahli waris perbuatan orang lain.”

Bila sedang semangat mencapai sukses/ambisi yang diinginkan; merasa dihambat atau terhambat maka timbullah kemarahan dan kebencian. “Byārosanā paṭīghasaññā–Nāññamaññassa dukkhamiccheyya”; “Jangan karena marah dan benci mengharap yang lain celaka.” Celakanya kita; tidak akan berhenti dan puas bila belum melihat orang yang menghalangi sukses kita menderita.

Ketika nafsu keinginan sudah bersekutu dengan kebencian dan kemarahan maka mata hati menjadi gelap; sulit melihat kebenaran. Kita terjebak dalam emosi dan kebodohan (A-vijjā ; tidak–berpengetahuan) yang dalam. Kebodohan hanya menghantarkan kita berjalan dari tempat yang terang ke tempat yang gelap. Dari tempat yang gelap menjadi semakin gelap.

Pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill) dunia yang kita pelajari sejak kecil hingga masa sekolah selesai hanya menunjukkan jalan mencapai kebahagiaan materi; Kebahagiaan bermata kail; setiap kesenangan sementara yang harus ditukar dengan risiko penderitaan. Kesenangan itu berubah pada saat kita masih menyukainya. Tidak berubah padahal kita sudah bosan. Kondisi itu menimbulkan ketidakpuasan dalam hidup.

Membangkitkan Pencerahan Batin.
Kondisi batin yang masih kurang pengetahuan dan terampil sering menjebak kita dalam pandangan dan pengertian keliru.

Ketika mata bisa melihat yang indah kita berterima kasih kepada mata yang sudah membantu melayani melihat keindahan. Hidung membaui yang wangi. Telinga mendengar suara merdu. Lidah bisa mengecap makanan yang lezat. Tubuh bisa merasakan sensasi sentuhan. Pikiran bisa menciptakan lamunan indah. Keenam indra itu dianggap sebagai pelayan yang baik dan mendatangkan kesenangan. Apakah benar demikian? Kalau kita mau memakai semangat untuk menelaah keadaan yang sesungguhnya; kita akan sampai pada kesimpulan bahwa sesungguhnya kitalah yang menjadi pelayan pemuas keinginan dari keenam indra kita tersebut. Siang malam kita bekerja hanya untuk menyenangkan keenam indra tersebut. Bukankah demikian?

Dengan semangat yang benar dan baik harusnya kita bisa memilih apakah tubuh (rūpa) dan batin (nāma) ingin dipakai untuk terus menderita atau bahagia dan bebas dari penderitaan? Mengacu pada 12 mata rantai sebab musabab yang saling bergantungan (paṭiccasamuppāda) yang menyebabkan kita berulang lahir dan mati, bukan cuma dua puluh lima tahun yang diperlukan untuk membebaskan diri dari avijjā (kebodohan batin) namun berkalpa; berkali masa kehidupan yang tidak terhitung lamanya harus ditempuh untuk mencerahkan batin; perlu semangat yang berkesinambungan. Bila pengetahuan Dhamma sudah diperoleh maka kita tidak akan lagi sibuk menimbun akibat baik/buruk baru lagi. Dengan begitu tidak lagi ada arus kesadaran yang berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya. Tidak lagi terbentuk fisik dan batin. Tidak lagi ada tempat bagi indra yang melakukan kontak. Dengan mengendalikan kontak keenam indra dengan lingkungan maka nafsu keinginan dapat dikendalikan, yang pada gilirannya tidak lagi akan menimbulkan kemelekatan, tidak ada lagi arus menjadi, terhentinya kelahiran kembali dan ratap tangis kematian.

Semangat Mendapatkan dan Melepaskan.
Setelah berupaya dengan sungguh-sungguh menghentikan hal buruk yang ada dalam diri dan menyingkirkannya satu persatu, merealisasikan hal-hal baik dan terus mengembangkan hal-hal baik menuntun kita sampai pada satu titik kesadaran bahwa semangat melepaskan tidak kalah penting dengan semangat mendapatkan.

Bila ‘sukses dan bahagia’ diartikan hanya sebagai semangat untuk mendapatkan, maka kita akan menderita. Karena ternyata satu kelegaan dan kebahagiaan kadang dicapai pada saat kita dapat melepaskan; melepaskan sumber penderitaan; melepaskan segala nafsu keinginan. Semangat yang besar dibutuhkan untuk mendapatkan sesuatu, namun sesungguhnya semangat yang lebih besar malah dibutuhkan saat kita harus merelakan dan melepaskan apa yang sudah kita ‘miliki’ dalam kehidupan ini.

Kehidupan Buddha Gautama memberikan inspirasi yang sempurna; dengan semangat pengorbanannya ia melepaskan kebahagiaan duniawinya; mengganti dengan kebahagiaan yang mutlak dan sejati; Nibbāna. Kebahagiaan yang tidak lagi bersyarat dan berkondisi; tidak ada penderitaan baru lagi. Semoga kita semua bisa terus berjuang dengan penuh semangat, tidak hanya mengejar kebahagiaan duniawi yang sementara namun dapat mencapai pembebasan sejati; mencapai Nibbāna.

Nibbānasa Paccayo hotu;
Semoga jasa kebaikan ini mengkondisikan pencapaian Nibbāna. Sādhu Sādhu Sādhu.