Hidup Sekarang & di Sini : Anti Galau

DR. Ponijan Liaw,M.Pd.

Mengapa galau memikirkan apa yang belum terjadi sampai merusak konsentrasi kini? Bukankah lebih baik menyiapkan diri untuk menyongsong apa yang diinginkan terjadi di masa nanti?

Manusia terkadang berpikir terlalu jauh untuk sesuatu yang sejatinya sederhana: apa yang ada di depan mata. Ibarat seseorang yang terkena panah beracun. Jika ia malah berpikir siapa yang memanahnya? Mengapa ia melakukannya? Terbuat dari bahan jenis apakah anak panah itu dibuat? Beracun atau tidakkah anak panah itu? Dan seterusnya. Dapat dipastikan ia akan terkapar mati di tempatnya tidak lama setelah terkena panah itu. Sama halnya dengan negeri ini. Begitu banyak orang yang khawatir dengan akan diberlakukannya CAFTA (China-Asean Free Trade Area) yang belum terjadi. Memang kesepatakan itu akan tetap terjadi karena upaya renegosiasi tidak membuahkan hasil untuk menunda masa berlakunya praktik perdagangan bebas ASEAN-China itu.

Namun, mengapa energi mental dan intelektual dikuras habis untuk memperdebatkan mengapa hal itu harus terjadi dan bla… bla… bla… lainnya kini? Bukankah lebih baik seluruh potensi daya dan upaya dikonsentrasikan serta difokuskan pada strategi, kreasi, inovasi, dan invensi varian produk/jasa baru bernilai kompetitif dan komparatif untuk diperdagangkan nanti ketika eranya sudah menjemput? Mengapa mengkhawatirkan sesuatu yang belum jelas terjadi (dalam arti produk/jasa yang akan dipasarkan)? Inilah konsep kekinian yang seharusnya dikedepankan daripada menggerus waktu secara sia-sia tanpa hasil apa-apa kecuali pembuangan waktu semata.

Hiduplah Sekarang Kehidupan yang masih ada sampai kini adalah sebuah anugerah. Kemarin sudah berlalu, esok belum tiba. Lalu apa yang mau dikhawatirkan terhadap kemarin dan esok hari? Kejadian kemarin sudah berlalu dan tidak bisa diubah lagi peristiwanya. Yang bisa diambil hanya hikmahnya semata. Lalu, mengapa menyesalinya berlarut-larut hingga ruang pikiran dan perasaan penuh dengan kisah sedih di hari Minggu itu sehingga menghambat kisah ceria dan bahagia untuk masuk ke ruang itu? Sedangkan esok belum terjadi. Untuk apa mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu atau belum pasti akan terjadi. Ramalan cuaca saja bisa meleset. Rencana pun bisa mengalami penjadwalan ulang. Pesawat terbang bisa delay. Dan seterusnya. Lalu, apa yang seharusnya dilakukan kini? Sejatinya, apa yang harus dilakoni adalah segera mengambil tindakan atas apa yang tengah terjadi di depan mata sekarang. Bukan apa yang belum terjadi atau belum tentu terjadi di masa depan. Lihat saya bagaimana Jusuf Kalla disukai oleh banyak kalangan karena kecepatannya merespons apa yang seharusnya dilakukan pada saat darurat.

Ketika tsunami melanda Aceh, prosedur baku dan kaku tidak bisa lagi dijadikan pedoman untuk membantu proses evakuasi dan pemberian bantuan logistik. Situasinya darurat dan genting! Semuanya harus ditangani secara cepat dan tepat. Itu yang ada di depan mata dan harus segera direspons. Yang belum datang dipikirkan berikutnya sebagai bagian dari perencanaan. Karena kita berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan setiap yang ada di depan mata. Segala sesuatu yang dipikirkan tentang masa depan, pada saatnya, karena situasi dan kondisi, ada kemungkinan mengalami perubahan juga. Jadi, kata kuncinya adalah: konsentrasi sajalah pada apa yang ada di depan mata dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. Setelahnya, hal-hal lain bisa menjadi menu pikiran berikutnya.

Hiduplah Di sini Satu hal lagi yang juga penting diingat adalah ‘hiduplah di sini.’ Apa makna dibalik kalimat dua kata itu? Betapa masih banyak orang yang fisiknya di suatu tempat, namun pikirannya ada di tempat lain. Ketika ia bekerja, raganya ada di kantor, namun jiwanya ada di rumah atau tempat hiburan. Dalam kondisi seperti itu, bagaimana mungkin akselerasi prestasi bisa diraih. Jiwa dan raga tidak terintegrasi sebagaimana mestinya. Produktivitas kerja pasti mengalami kemunduran. Berbeda jika jasmani dan rohani menyatu dalam diri saat aktivitas dilakukan. Kinerja pasti akan meningkat secara deret ukur.

Kedua elemen panduan hidup di atas – hiduplah sekarang dan di sini – seolah menjadi ramuan senyawa yang tidak bisa dipisahkan bila prestasi dan prestise hidup menjadi tujuan. Karena keduanya saling terkait, di mana ada diri, di sana ada jiwa. Diri dan jiwa itu akan berkembang dengan baik jika ia hidup di masa kini, bukan di masa lalu atau esok. Perpaduan yang sangat elok untuk hidup sehat, sukses, dan bahagia. Sudahkah Anda hidup sekarang dan di sini?

* Penulis merupakan Komunikator No. 1 Indonesia dan dapat menghubunginya di pl@ponijanliaw.com (www.ponijanliaw.com)