“Cinta Kasih itu Merukunkan”

Y.M. Bhikkhu Atthapiyo

Senja terpancar, ketika mentari menggelayut di kaki langit. Warnanya seirama dengan warna jubah yang dikenakan. Sorot banyak pasang mata yang berada di kiri kanan jalan terus menatap dengan lahapnya. Bagaikan hidangan yang baru disajikan dengan hangatnya di meja makan, para pasangan mata terus memandang dengan serius. Setiap pasang mata mengutarakan ungkapan hati pemiliknya. Siapa gerangan ia yang berpakaian aneh, rasa-rasanya demikian jika diungkapkan. Sosok berjubah berjalan dengan penuh kesadaran, sudah bukan hal yang baru ketika menjadi objek dari perhatian. Tidak ada lagi risih. Kenapa demikian? Karena sudah biasa. Jika umat Buddha, maka mereka dengan serta merta mengatupkan tangan di dada, mendekat, sedikit menunduk, kemudian mempersembahkan senyum terbaik sambil berucap, Namo Buddhaya Bhante, tapi untuk momen ini tidaklah mungkin terjadi. Tetap melangkah menuju bangunan yang belum bisa diselesaikan.

Dari kejauhan berkumpul orang-orang dari berbagai usia. Mengamati dan terus mengamati. Sejenak kerabat yang telah berkumpul memberikan sambutan sewajarnya. Karena keluarga besar belum siap dengan kehadiran sosok berjubah ini. Memilih jalan untuk keluar dari keyakinan sebelumnya saja, susah diterima, apalagi sekarang menjadi bhikkhu. Jelas label sebagai seorang yang murtad tersematkan. Namun tetap dengan kepercayaan diri sosok ini masuk dan mulai bercakap-cakap dengan kerabat yang ada. “Kenapa Kakak mereka tidak datang, Bapa?” pertanyaan terlontar karena anggota yang tidak lengkap. Sosok laki-laki yang berumur 67 tahun menundukkan kepala, kekecewaan tergambar dari wajah tuanya. Setelah ditinggal istri tercinta pria ini menghabiskan hari-harinya dengan bekerja di kebun. Pagi-pagi, saat fajar belum sempat memperkenalkan diri, pria ini sudah menyusuri jalan setapak menuju kebun. Ketika mentari sudah lelap berbaring di balik bukit, diapun kembali.

“Mereka tidak mau datang, Nong”, bola matanya berkaca-kaca. Ada duka yang bersembunyi di balik ketegaran hati yang terus menanggung derita. Ditinggal oleh istri pertama karena waktu untuk hidup di dunia telah habis, selanjutnya hadir istri kedua 15 tahun bersama dalam suka dan duka. Namun Tuhan berkehendak lain istri tersayang ini pun harus dipisahkan untuk selamanya. Ketika waktu terus bergulir hatinya masih bisa berharap ada penghiburan, tapi rupa-rupanya jalan hidup berkendak lain, putra tunggalnya pun memilih menjadi seorang bhikkhu. Meskipun berat untuk memberikan izin tapi demi kebahagiaan anak tercinta izin diberikan. “Biarlah anak saya menjadi orang yang berguna bagi banyak orang,” demikian jawaban yang diberikan ketika ditanya kenapa mengizinkan anak satu-satunya jadi bhikkhu. Baginya ini garis hidup yang telah ditulis oleh Tuhan, dan manusia hanya bisa menerima dan menjalaninya. Kondisi lebih berat ditanggung ketika salah satu dari pihak keluarga memutuskan untuk “memboikot” pertemuan ini. Karena anaknya sudah berpindah keyakinan.

“Baiklah Bapa, nanti saya akan berkunjung ke rumah mereka.” “Jangan Nong, mereka lagi mabuk, saya khawatir kalau kamu menjumpai mereka.”

“Tidak apa-apa Bapa, saya justru kasihan sama mereka, karena mereka tidak tahu dan tidak paham apa yang sebenarnya. Kalau saya tidak berkunjung dan memberitahu kepada mereka, maka mereka akan menyimpan kebencian,” dengan kepercayaan diri sosok berjubah menanggapi, tak sedikitpun ketakutan, kemarahan, atau kejengkelan yang ada di batinnya.

Sementara itu di tempat lain para kumpulan orang-orang terus membahas peristiwa yang terjadi pertama kali, seorang anak asli dari kampung mereka jadi biksu. “Jangan dekat-dekat nanti kalian akan masuk jadi agama Buddha,” peringatan terlontar dari seorang pria. Sementara itu yang lain pun mengiyakan. Obrolan terus berlanjut mengupas, mengulas, hingga malam mendekap sangat mesra. Sapaan angin malam tak dihiraukan. Asap rokok terus mengepul, gelas berisi moke (minuman khas dari pulau Flores yang terbuat dari tanaman siwalan/pohon lontar dan enau) terus berputar dan sejenak parkir di tangan yang ingin meneguk minuman “kata-kata” ini.

“Pokoknya kita tidak boleh datang, ini pendapat saya. Seenaknya saja pindah agama sekarang datang mau bawa agama baru. Ini tidak bisa dibiarkan,” suaranya lantang, tegas. Dia adalah orang yang sering memberikan renungan di gereja. Pria yang terkenal pandai dalam hal berkomunikasi apalagi mempengaruhi orang lain. Para bapa dan ibu yang berada di situ diam menyimak. “Kasih tahu anak-anak kita jangan mendekat ke sana ya,” sambil wajahnya menoleh menatap lekat-lekat ke ibu-ibu yang duduk di samping. Malam itupun berlalu. Kumpul-kumpul berakhir, saatnya tubuh butuh istirahat meskipun pikiran masih bergentayangan berpikir dan berpikir karena memang demikianlah sifat pikiran.

Kembali fajar menyapa. Hari baru telah tiba. Membentangkan kesempatan bagi anak manusia untuk menggapai asa yang sempat tertunda. Sosok berjubah kini memantapkan hatinya untuk mengunjungi sanak keluarganya yang kontra. Mereka adalah orang-orang berpengaruh. Memberitahukan dan menjelaskan apa yang sesungguhnya adalah asa yang ingin diraih hari ini. “Kebencian tidak akan pernah berakhir bila dibalas dengan kebencian, tapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih,” Kata-kata Sang Buddha sungguh merasuk dalam hatinya. Langkahnya mantap menyusuri lorong kecil yang sudah disemenisasi. Kemudian ayunan kaki terhenti, saat berdiri tepat di depan rumah berdinding batu bata. Senyum manis nan lembut terpahat di bibirnya. Ekspresi rasa belas kasih dari siswa Sang Buddha.

“Silakan masuk,” kalimat tegas melucur dari pemilik rumah. Sosok berjubah masuk dan mengambil posisi duduk, memperhatikan sekeliling isi rumah. Tiba-tiba bermunculan kerabat yang lain. Seperti semut yang menemukan gula pasir. Dari anak-anak sampai orangtua. Berjejal memenuhi ruangan.

“Saya minta maaf, Kakak, kalau keputusan yang saya ambil mengecewakan kalian,” menatap lekat-lekat ke setiap orang yang hadir di situ. Kemudian, “Tapi selama di sana saya juga mengajar di Seminari Menengah dan kadang diundang mengisi seminar di Seminari Tinggi. Dan setiap Minggu saya selalu menerima tamu-tamu mahasiswa Katolik baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” sejenak menarik nafas sambil memastikan apakah pendengar menyimak dan meresapi kalimat yang telah diucapkan. Kemudian responpun terlontar. “O ya? Kamu mengajar apa?” rasa penasaran muncul. “Saya mengajar tentang ajaran Buddha, karena ajaran Buddha itu perihal praktik kehidupan sehari-hari tanpa membedakan agama,” kalimat yang terucap sedikit lamban namun dengan penuh penekanan. Sehingga membuat pendengar mengangguk-angguk.

“Untuk lebih jauh saya mengundang Kakak semua dan para kerabat hadir besok malam di rumah Bapa agar saya menjelaskan semuanya dan kita bisa diskusi. Karena pada dasarnya kasih yang diajarkan Yesus sama dengan kasih yang diajarkan Buddha. Kita bisa saling melengkapi,”

*** Mentari kembali menghilang di balik bukit, Kala, sang dewa waktu telah melahap siang, dan memuntahkan malam. Anak-anak manusia bersibuk menuntaskan aktivitas yang berhubungan dengan terang. Demikian juga rumah kecil di ujung jalan mulai berdatangan wajah-wajah baru yang sebelumnya menolak untuk bergabung. Dalam sekejab riuh ramai mengisi malam yang biasanya sepi.

Para kerabat telah lengkap hadir dan pertemuanpun dimulai, tak perlu lagi menetapkan siapa mediator karena keluarga besar ini sudah memiliki mediator sendiri. Dia adalah tokoh agama yang sering berkhotbah di gereja. “Silakan Adek menjelaskan, waktu kami persilakan”, sambil memandang sosok berjubah.

“Baiklah terima kasih,” memandang sekeliling dengan senyum untuk memastikan bahwa para pendengar telah siap. “Baik saya mohon maaf, jika sudah merepotkan para saudara-saudariku, orangtuaku. Namun tak bisa saya hindari bahwa ini adalah jalan hidup yang harus saya lewati dan kita semua lewati. Kita tidak pernah menyangka soal masa depan yang tak pasti, namun kita bisa memetik hikmah positif. Meskipun saya sekarang menjadi seorang bhikkhu bukan berarti saya orang jahat, atau bahkan akan menyesatkan kita semua. Tidak. Banyak hal dari ajaran Buddha yang bisa dimaknai untuk memperkaya keyakinan dan praktik spiritual Saudara-saudariku. Artinya saya secara pribadi masih menghormati Yesus sebagai manusia luar biasa. Dengan kualitas batin yang hebat. Dan tidaklah berlebihan jika saya mengatakan, Saya makin cinta Yesus. Saya menemukan spirit dari seorang Yesus ketika saya belajar Ajaran Buddha sampai jadi bhikkhu,” semua memandang lekat-lekat, sosok yang berbicara dengan tegas, namun tetap lembut. Tak ada suara yang riuh. Semua seperti “tersihir” oleh suasana. Kemudian dilanjutkan,

“Jadi tidak ada yang perlu dikuatirkan, saya tetap menjadi seorang bhikkhu dengan terus bermanfaat bagi umat Buddha dan umat agama lain yang mau belajar tentang ilmu kehidupan. Ajaran Buddha adalah ajaran tentang kehidupan. Maksudnya adalah suatu cara untuk mengolah hidup agar bahagia dan damai tanpa berpihak pada agama tertentu. Contoh, manusia menderita karena pikirannya sendiri, ketika pikirannya curiga, prasangka, apa yang dialami? Tidak bahagia. Benar kan?” semua yang ada mengangguk.

“Tetapi jika pikirannya, senang, tidak curiga, senantiasa mendoakan orang lain, memaafkan, apa yang dialami? Bahagia, kan? Nah inilah hukum kehidupan. Buddha mengajarkan untuk melatih pikiran ini biar bahagia dengan cara meditasi.” “O ya. Di ajaran Buddha ada meditasi?” sang moderator menanggapi. “Ada Kakak. Itu salah satu inti ajaran Buddha agar manusia dapat bebas dari penderitaan.” Seperti menemukan sesuatu yang dicari sang moderator mengangguk-angguk dengan wajah berseri-seri. Rasa-rasanya dia ingin mendengarkan ulasan tentang topik satu ini lebih jauh. Sampai pada titik ini rasa bersalah seperti muncul dalam hatinya. Sekian lama saya mencurigai dan berprasangka tidak baik terhadap adik, tapi ternyata dia membawa “bahan” untuk pengembangan spiritual. Diskusi dan sharing terus berlanjut hingga larut malam dan acara ini ditutup dengan doa bersama untuk perdamaian keluarga besar serta rasa syukur karena salah satu anggota keluarganya telah menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. Dan ditutup dengan salah satu wujud dan harapan, semoga Adik menjadi bhikkhu sampai seterusnya dan selama-lamanya demi kebaikan dan rahmat bagi dunia. Suka cita terpancar dengan bersalaman dan berpelukan, tak ada lagi yang dicurigai, semua sudah jelas adanya. Jika hati sudah bertakhtakan cinta kasih maka yang ada adalah kerukunan. Sadhu...sadhu...sadhu...

1.(Nong) Panggilan untuk anak laki-laki dalam sistem kekerabatan orang Flores Timur
2. (Seminari) Sekolah calon biarawan Katolik