Keteduhan Batin

Y.M. Bhikkhu Atthavīro

Pendahuluan
Salah satu pendapat seseorang, bermeditasi seperti halnya jasmani ini yang membutuhkan untuk di bersihkan, misalnya dalam beberapa hari tubuh ini tidak dibersihkan maka tubuh ini akan sangat kotor. Batin ini juga butuh untuk dibersihkan supaya batin kita tidak kotor, tidak ternoda. Jadi, jasmani dan batin sebenarnya memiliki karakteristik yang sama, keduanya butuh untuk dibersihkan. Jika batin tidak dibersihkan maka batin pun akan menjadi kotor. Seperti halnya jasmani yang membutuhkan istirahat, tidak bisa digunakan terus-menerus melakukan pekerjaan. Batin seseorang juga membutuhkan untuk istirahat, untuk hening/diam. Batin yang hening hanya diperoleh pada saat seseorang bermeditasi. Batin juga membutuhkan nutrisi, nutrisi dari batin adalah kualitas-kualitas batin yang positif yang diperoleh saat seseorang melatih batinnya. Pengembangan batin adalah suatu perbuatan yang akan membentuk perilaku yang bermanfaat.

Bahasan
Terdapat satu kisah di masa kehidupan Buddha Gotama, seorang bendahara kerajaan di Rajagaha mempunyai dua orang cucu laki-laki bernama Mahāpanthaka dan Cūḷapanthaka. Mahāpanthaka, yang tertua selalu menemani kakeknya mendengarkan khotbah Dhamma. Kemudian Mahāpanthaka bergabung menjadi murid Sang Buddha.Cūḷapanthaka mengikuti jejak kakaknya menjadi bhikkhu, tetapi karena pada kehidupan yang lampau pada masa kehidupan Buddha Kassapa, Cūḷapanthaka telah menggoda seorang bhikkhu yang sangat bodoh, maka dia dilahirkan sebagai orang dungu pada kehidupannya saat ini. Dia tidak mampu mengingat meskipun hanya satu syair dalam empat bulan. Mahāpanthaka sangat kecewa dengan adiknya dan mengatakan bahwa adiknya tidak berguna.

Suatu hari, Jivaka datang ke vihāra mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu yang ada untuk berkunjung makan siang di rumahnya. Mahāpanthaka yang diberi tugas untuk memberitahu para bhikkhu tentang undangan makan siang tersebut, mencoret Cūḷapanthaka dari daftar undangan. Ketika Cūḷapanthaka mengetahui hal itu, dia merasa sangat kecewa dan memutuskan untuk kembali hidup sebagai seorang perumah tangga.

Mengetahui keinginan tersebut, Sang Buddha membawanya dan menyuruhnya duduk di depan Gandhakuti. Kemudian Beliau memberikan selembar kain bersih kepada Cūḷapanthaka dan menyuruhnya untuk duduk menghadap ke timur dan menggosok-gosok kain itu. Pada waktu bersamaan dia harus mengulang kata “Rajoharanam”, yang berarti "kotor". Sang Buddha kemudian pergi ke tempat kediaman Jivaka, menemani para bhikkhu.

Cūḷapanthaka mulai menggosok selembar kain tersebut, sambil mengucapkan “Rajoharanam”, berulang kali kain itu digosok dan berulang kali pula kata-kata rajoharanam meluncur dari mulutnya. Berulang dan berulang kali. Karena terus-menerus digosok, kain tersebut menjadi kotor. Melihat perubahan yang terjadi pada kain tersebut, Cūḷapanthaka tercengang. Ia segera menyadari ketidakkekalan segala sesuatu yang berkondisi.

Dari rumah Jivaka, Sang Buddha dengan kekuatan batin mengetahui kemajuan Cūḷapanthaka. Beliau dengan kekuatan batin menemui Cūḷapanthaka, sehingga seolah-olah Beliau tampak duduk di depan Cūḷapanthaka, dan berkata: "Tidak hanya selembar kain yang dikotori oleh debu; dalam diri seseorang ada debu hawa nafsu (rāga), debu keinginan jahat (dosa), dan debu ketidaktahuan (moha), seperti ketidaktahuan akan empat kesunyataan mulia. Hanya dengan menghapuskan hal-hal tersebut seseorang dapat mencapai tujuannya dan mencapai Arahat." Cūḷapanthaka mendengarkan pesan tersebut dan meneruskan bermeditasi. Dalam waktu yang singkat diperoleh kekuatan batin dan ia mencapai tingkat kesucian Arahat, bersamaan dengan memiliki "Pandangan Terang Analitis". Maka Cūḷapanthaka tidak lagi menjadi orang dungu.

Di rumah Jivaka, para umat akan menuang air sebagai tanda telah melakukan perbuatan dāna; tetapi Sang Buddha menutup mangkoknya dengan tangan dan berkata bahwa masih ada bhikkhu yang ada di vihāra. Semuanya mengatakan bahwa tidak ada bhikkhu yang tertinggal. Sang Buddha menjawab bahwa masih ada satu orang bhikkhu yang tertinggal dan memerintahkan untuk menjemput Cūḷapanthaka di vihāra. Ketika pembawa pesan dari rumah Jivaka tiba di vihāra, dia menemukan tidak hanya satu orang bhikkhu, tetapi ada seribu orang bhikkhu yang serupa. Mereka semua diciptakan oleh Cūḷapanthaka, yang sekarang telah memiliki kekuatan batin. Utusan tersebut kagum dan dia pulang kembali untuk melaporkan hal ini kepada Jivaka.

Utusan itu kembali diutus ke vihāra untuk kedua kalinya dan diperintahkan untuk mengatakan bahwa Sang Buddha mengundang bhikkhu yang bernama Cūḷapanthaka. Tetapi ketika dia menyampaikan pesan tersebut, seribu suara menjawab, "Saya adalah Cūḷapanthaka". Dengan bingung, dia kembali ke rumah Jivaka untuk kedua kalinya.

Untuk ketiga kalinya dia disuruh kembali ke vihāra. Kali ini, dia diperintahkan untuk menarik bhikkhu yang dilihatnya pertama kali mengatakan bahwa dia adalah Cūḷapanthaka. Dengan cepat dia memegangnya dan semua bhikkhu yang lain menghilang, dan Cūḷapanthaka menemani utusan tersebut ke rumah Jivaka.

Setelah makan siang, seperti yang diperintahkan oleh Sang Buddha, Cūḷapanthaka menyampaikan khotbah Dhamma, khotbah tentang keyakinan dan keberanian, mengaum bagaikan raungan seekor singa muda. Ketika masalah Cūḷapanthaka dibicarakan di antara para bhikkhu, Sang Buddha berkata bahwa seseorang yang rajin dan tetap pada perjuangannya akan mencapai tingkat kesucian Arahat.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 25 berikut ini: Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri, hendaklah orang bijaksana membuat pulau bagi dirinya sendiri yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.

Di dalam kitab Aṅguttara Nikāya terdapat nasihat Buddha untuk seseorang berupaya melaksanakan meditasi: Para Bhikkhu, ada lima faktor ini yang membantu usaha. Apakah lima ini? (1) “Di sini, seorang bhikkhu memiliki keyakinan. Ia berkeyakinan pada pencerahan Sang Tathāgata. (2) “Ia jarang sakit atau menderita, memiliki pencernaan yang baik yang tidak terlalu dingin juga tidak terlalu panas melainkan sedang dan sesuai untuk berusaha. (3) “Ia jujur dan terbuka, seorang yang mengungkapkan dirinya sebagaimana adanya kepada Sang Guru dan teman-temannya para bhikkhu yang bijaksana. (4) “Ia membangkitkan kegigihan untuk meninggalkan kualitas-kualitas yang tidak bermanfaat dan mendapatkan kualitas-kualitas yang bermanfaat; ia kuat, teguh dalam pengerahan usaha, tidak mengabaikan tugas melatih kualitas-kualitas bermanfaat. (5) “Ia bijaksana; ia memiliki kebijaksanaan yang melihat muncul dan lenyapnya, yang mulia dan menembus dan mengarah menuju kehancuran penderitaan sepenuhnya.

“Ini, para Bhikkhu, adalah kelima faktor yang membantu usaha itu.” Di dalam kitab yang sama terdapat perumpamaan mengenai rintangan-rintangan batin yang muncul saat seseorang berlatih meditasi. “Para Bhikkhu, ada lima kotoran ini pada emas, yang dengan dikotori olehnya maka emas menjadi tidak lunak, tidak lentur, dan tidak bersinar, melainkan rapuh dan tidak dapat dikerjakan dengan baik. Apakah lima ini? besi, tembaga, timah, timbel, dan perak. Ini adalah kelima kotoran pada emas, yang dengan dikotori olehnya emas menjadi tidak lunak, tidak lentur, dan tidak cerah, melainkan rapuh dan tidak dapat dikerjakan dengan baik. Tetapi ketika emas terbebas dari kelima kotoran ini, maka emas menjadi lunak, lentur, dan bersinar, dapat dibentuk dan dapat dikerjakan dengan baik. Kemudian perhiasan apapun yang seseorang ingin hasilkan dari emas ini - apakah gelang, anting-anting, kalung, atau kalung bunga emas – ia dapat mencapai tujuannya.“

Demikian pula, para Bhikkhu, ada lima kotoran pikiran ini, yang dengan dikotori olehnya maka pikiran menjadi tidak lunak, tidak lentur, dan tidak bersinar, melainkan rapuh dan tidak terkonsentrasi dengan baik demi hancurnya noda-noda. Apakah lima ini? Keinginan indria, niat buruk, ketumpulan, dan kantuk, kegelisahan dan penyesalan, dan keragu-raguan. Ini adalah lima kotoran pikiran, yang dengan dikotori olehnya maka pikiran menjadi tidak lunak, tidak lentur, dan tidak bersinar, melainkan rapuh dan tidak terkonsentrasi dengan baik demi hancurnya noda-noda. Tetapi ketika pikiran terbebas dari kelima kotoran ini, maka pikiran menjadi lunak, lentur, dan bersinar, dapat dibentuk, dan terkonsentrasi baik demi hancurnya noda-noda. Kemudian, jika ada landasan yang sesuai, maka seseorang mampu merealisasikan kondisi apapun yang dapat direalisasikan melalui pengetahuan langsung ke arah mana ia mengarahkan pikirannya.

Simpulan
Meditasi setiap saat, setiap waktu melatih kesadaran kita, waspada terhadap batin kita, mewaspadai setiap kekotoran batin yang muncul, itu Bhāvana yang mesti kita kembangkan, dilatih dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian apapun perbuatan baik kita merupakan perbuatan yang bermanfaat, perbuatan yang membawa pada kebahagiaan di alam sekarang maupun di kehidupan berikutnya.

Sumber:
-Kitab Suci Dhammapada,Bahussuta society
-Kitab Suci Aṅguttara Nikāya,Dhammacitta
-Perumpamaan Dhamma, Ajahn Chah