Kekuatan Semangat dan Tekad

Y.M. Bhikkhu Ratanajayo

Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri, hendaklah orang bijaksana, membuat pulau bagi dirinya sendiri, yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir. (Dhammapada syair 25)

Pengertian Viriya
Viriya dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai semangat, energi, atau usaha. Viriya adalah salah satu faktor penting yang dibutuhkan seseorang dalam menapaki jalan kesucian. Viriya sering kali dikaitkan dengan Usaha Benar atau Sammā Vāyāma. Dalam AN 4.13, Sammā Vāyāma dijelaskan sebagai sebuah usaha untuk: (1) tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang belum muncul, (2) meninggalkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang telah muncul, (3) memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul, dan (4) mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul.

Viriya juga termasuk dalam tujuh faktor untuk mencapai penerangan sempurna atau Satta Bhojaṅga. Viriya muncul ketika seseorang berlatih dengan tekun, waspada, dan penuh perhatian (Sati) melakukan penyelidikan dengan kebijaksanaan (Dhamma-Vicaya). Sebaliknya, untuk dapat melakukan penyelidikan dengan bijaksana dibutuhkan semangat (Viriya) sebagai pondasinya. Dari semangat dan kegigihan tersebut muncullah sukacita (Pīti).

Seseorang yang berbakat tidak selalu memiliki tekad yang kuat
Berbicara tentang semangat dan tekad, ada sebuah presentasi yang sangat bagus di TED. TED merupakan singkatan dari Technology, Entertainment, Design. TED adalah sebuah organisasi non profit yang mengumpulkan para tokoh inspiratif dari berbagai bidang untuk tampil memberikan presentasi dalam sebuah konferensi. Angela Lee Duckworth, seorang psikolog dari University of Pennsylvania membawakan sebuah presentasi dengan judul ‘Grit: The power of passion and perseverance’. Angela mempelajari tentang pengendalian diri dan tekad. Ia meneliti dan mencari tahu bagaimana tekad dapat mempengaruhi keberhasilan seseorang.

Sebelumnya Angela bekerja sebagai seorang konsultan manajemen, namun pada usia 27 tahun ia memutuskan beralih profesi menjadi guru matematika kelas tujuh di sekolah umum di New York. Pada saat mengajar ia menemukan satu fakta yang membuatnya tercengang, bahwa IQ atau kecerdasan intelektual bukan satu-satunya faktor penentu yang membuat anak didiknya berhasil di sekolah. Beberapa siswanya yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, ternyata tidak begitu berhasil dalam pelajaran.

Setelah beberapa tahun mengajar, ia pun menyadari bahwa keberhasilan seseorang baik di sekolah maupun di luar sekolah tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual semata. Angela kemudian berhenti mengajar dan melanjutkan pendidikan pascasarjana menjadi seorang psikolog. Subjek yang ia teliti beragam, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa dengan berbagai latar belakang. Dari sekian banyak subjek yang ia teliti, pertanyaan yang selalu ia bawa kemana-mana yaitu: “Siapa yang berhasil di sini dan mengapa?”. Hasil penelitiannya menunjukkan, faktor penentu keberhasilan seseorang bukanlah kecerdasan intelektual, bukan juga penampilan yang menarik ataupun kesehatan fisik, melainkan tekad yang kuat.

Tekad yang dimaksud adalah semangat dan ketekunan untuk merealisasi tujuan jangka panjang. Tekad yang tidak hanya bertahan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan, tetapi bertahun-tahun. Seseorang yang memiliki tekad kuat akan bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Memiliki tekad kuat berarti menjalani hidup dengan mempertahankan semangat dan tekad yang kuat dalam waktu lama dengan jarak yang amat panjang, seperti halnya sebuah pertandingan lari maraton.

Dalam studinya, Angela juga meneliti tekad para siswa di Sekolah Negeri Chicago. Ia meminta lebih dari 1.000 siswa mengisi kuesioner tentang tekad, kemudian menunggu satu tahun lebih untuk memeriksa siapa saja di antara mereka yang lulus. Hasilnya, anak-anak yang memiliki tekad kuat, persentase kelulusannya lebih besar dibandingkan anak-anak yang tekadnya lemah. Jadi, tekad tidak hanya penting di akademi militer, di ajang lomba, atau bahkan di perusahaan. Tetapi juga berlaku di sekolah, terutama bagi anak-anak yang sedang menempuh pendidikan.

Data hasil penelitian menunjukkan ada begitu banyak orang di luar sana yang berbakat namun tidak dapat menindaklanjuti komitmen mereka. Akhirnya mereka gagal dalam mencapai tujuan karena kurangnya tekad dan komitmen. Angela menyimpulkan: bakat tidak membuat seseorang memiliki tekad. Dengan kata lain, seseorang yang berbakat tidak selalu memiliki tekad yang kuat.

Pola pikir yang berkembang dapat membangun tekad
Dari penelitian yang dilakukan Angela kemudian muncul pertanyaan penting: “Bagaimana cara membangun tekad pada anak-anak? Apa yang harus dilakukan untuk mengajarkan etos kerja yang baik pada anak-anak? Dan bagaimana caranya menjaga mereka agar tetap termotivasi dalam waktu yang lama?” Ide terbaik tentang membangun tekad pada anak-anak menurut Angela adalah ‘growth mindset’ atau ‘pola pikir yang berkembang’. Sebuah ide yang dikembangkan oleh seorang doktor bernama Carol Dweck dari Stanford University. Dr. Dweck pernah menyampaikan ide tersebut di TED dengan judul ‘The power of believing that you can improve’.

Growht mindset adalah sebuah keyakinan bahwa kemampuan seseorang dapat berubah dan berkembang sejalan dengan usaha yang dikerahkan. Dalam penelitiannya, Dr. Dweck melakukan eksperimen kepada para siswa di sebuah sekolah. Siswa tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diedukasi tentang otak, bagaimana otak manusia dapat berkembang seiring dengan tantangan yang dihadapi, sedangkan kelompok kedua tidak.

Hasil penelitian Dr. Dweck menunjukkan bahwa para siswa yang berada di kelompok pertama menjadi lebih tekun saat menghadapi tantangan dan kesulitan dalam belajar. Anak-anak itu percaya bahwa seseorang bisa menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya jika saja mereka mau berusaha. Mereka yakin bahwa kegagalan bukanlah sebuah kondisi yang permanen.

Apa yang terjadi di sini adalah bahwa arti sebuah kesulitan dan tantangan di mata anak-anak itu telah berubah total. Sebelumnya mereka takut dan tidak suka pada tantangan dan rintangan. Ketika mereka dihadapkan pada kesulitan, mereka merasa diri mereka bodoh, lalu mereka menyerah. Tetapi setelah mereka mengetahui bahwa otak manusia dapat berkembang, mereka jadi lebih bersemangat dan tidak mudah menyerah. Mereka yakin, kesulitan dan tantangan yang mereka hadapi akan memicu neuron otak untuk membentuk jaringan baru, jaringan yang lebih kuat, dan itu membuat mereka menjadi lebih pintar dari sebelumnya.

Yakinlah bahwa semua orang bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya Berkat jasanya dalam menemukan dan mengajarkan ‘pola pikir yang berkembang’ pada anak-anak, suatu ketika Dr. Dweck pernah disurati oleh seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang pernah menjadi subjek penelitiannya, berikut isi suratnya: “Salam, Profesor Dweck, saya sangat menghargai tulisan Anda yang berdasarkan pada penelitian ilmiah, oleh karena itu saya memutuskan untuk mempraktikkannya. Saya berusaha lebih giat dan mengerahkan usaha ekstra dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah dan menjaga hubungan saya dengan keluarga serta teman-teman di sekolah, hasilnya saya mengalami perkembangan luar biasa di area-area tersebut. Sekarang saya menyadari bahwa saya telah menyia-nyiakan sebagian besar waktu dalam hidup saya.”

Apa yang dikatakan anak laki-laki tersebut dalam suratnya sangat menginspirasi. Anak itu bahkan baru berusia 13 tahun saat mengatakan, “Saya menyadari bahwa saya telah menyia-nyiakan sebagian besar waktu dalam hidup saya”. Di saat banyak orang yang berlarut-larut dalam kesedihan meratapi kegagalan yang dialami, ada seorang anak berusia 13 tahun yang bahkan sudah tidak mau lagi menyia-nyiakan waktunya hanya untuk meratapi nasib dan menyerah pada keadaan.

Jadi, ‘pola pikir yang berkembang’ adalah sebuah ide yang sangat bagus untuk membangun tekad pada anak-anak. Jangan sampai ada seseorang yang menyia-nyiakan hidupnya, berlarut-larut dalam putus asa dan merasa dirinya tidak berguna. Sesungguhnya kemampuan seseorang bisa berkembang dan menjadi lebih baik lagi jika ia mau berjuang dan berusaha lebih keras.

Usaha yang dilakukan saat ini menentukan masa depan seseorang
Untuk menjadi sukses, seseorang harus bersedia untuk gagal, melakukan kesalahan berkali-kali, lalu berusaha lebih baik lagi dengan pengalaman yang didapatkan. Meratap dan berlarut-larut dalam kesedihan ketika mengalami kegagalan bukanlah sikap yang bijaksana. Jauh lebih tidak bijaksana ketika seseorang gagal lantas menyalahkan kamma masa lampau dan tidak mau berusaha memperbaiki keadaan.

Menganggap bahwa semua hal yang dialami pada kehidupan saat ini seluruhnya merupakan hasil dari kehidupan lampau adalah sebuah pandangan keliru. Bila memang demikian, maka tidak ada gunanya seseorang melatih diri dalam Dhamma dan Vinaya dengan tekun dan berusaha sungguh-sungguh, karena akan percuma, sebab semua yang terjadi semuanya disebabkan oleh kamma masa lampau.

Oleh karena itu Sang Buddha menekankan para siswa untuk berlatih dengan tekun, penuh semangat, dan disiplin. Karena setiap usaha yang dilakukan dengan tekad dan penuh semangat akan menghasilkan manfaat pada kehidupan saat ini. Hal inilah yang harus digarisbawahi oleh semua orang yang mau mengubah masa depannya menjadi lebih baik, bahwa kehidupan seseorang tidak hanya ditentukan oleh hasil dari kamma masa lampau tetapi juga ditentukan oleh seberapa besar usaha yang dilakukannya pada saat ini.

Referensi
http://www.tipitaka.net/tipitaka/dhp/verseload.php?verse=025
https://www.wisdomlib.org/definition/viriya
https://suttacentral.net/id/an4.13
https://suttacentral.net/id/mn118
https://suttacentral.net/id/an3.61
https://www.ted.com/talks/angela_lee_duckworth_grit_the_power_of_passion_and_perseverance
https://www.ted.com/talks/carol_dweck_the_power_of_believing_that_you_can_improve