Atasi Problema Tanpa Mengekspos ke Media Sosial

Brenda ie-McRae, CCHt PLRt LBLt

”Duh sepinya... home alone nih, semua orang pergi” ”’Saya benci pekerjaan saya... huh membosankan !!! Saya benci bos saya, saya benci dunia!!!”

Pernahkah Anda membaca kalimat seperti itu di Blackberry Messenger, Facebook, Twitter, atau di Media Sosial lainnya? Belum lagi foto-foto vulgar/seksi yang mengundang tanda tanya dan perasaan risih.

Dengan adanya sosial media umum, banyak sekali orang-orang sekarang dari berbagai kalangan umur yang menyampaikan isi hati dan pikirannya lewat Media umum tersebut. Bukanlah niat saya untuk menghakimi/berpikir negatif kepada orang-orang tersebut, tetapi pikirkanlah apa dampak dari posting-an Anda tersebut kepada diri sendiri, keluarga, dan lingkungan Anda.

Dari postingan tentang ”Duh Sepinya..., home alone nih / Semua orang pergi” ~ bukankah hal ini memancing kejahatan mendatangi Anda/rumah Anda ? Mungkin saja orang yang ada di dalam Media Sosial Anda adalah seorang predator dalam artian pemerkosa/perampok/penipu? yang mencari kesempatan dari informasi yang Anda berikan.

”’Saya benci pekerjaan saya... huh membosankan_ !!! Saya benci bos saya, saya benci dunia !!!” Juga postingan negatif mengenai kolega Anda. Apa jadinya apabila kolega/atasan Anda melihat postingan ini? bukankah menjelaskan kepada mereka, karyawan/kolega seperti apakah diri Anda? Bukan tidak mungkin Anda dapat dipecat karena posting-an seperti itu dan hal ini sudah pernah terjadi (penulis pernah membaca beritanya). Karena ini bisa mengganggu citra perusahaan tempat Anda bekerja apabila Anda memposting sesuatu yang negatif. Biasanya orang menyebutkan tempat mereka bekerja, sehingga ini dapat berdampak.

Juga pikirkan, apabila di suatu saat Anda melamar kerja di perusahaan lain, sementara bagian Sumber Pemberdayaan (HRD) dapat saja mengecek halaman sosial media Anda dan menjadi bendera merah bagi perusahaan baru tempat Anda melamar pekerjaan bahwa Anda adalah orang yang suka mengeluh, merusak citra perusahaan/kolega Anda. Hal ini dapat membuat Anda menutup jembatan kesuksesan Anda sendiri di masa mendatang. Ada pula suami yang menceraikan istrinya karena sang istri memasang foto-foto vulgar/seksi di medianya, yang tentunya terlihat oleh suami, saudara, dan teman-temannya. Tidaklah sepantasnya kita memasang foto yang tidak sesuai dengan status kita dalam masyarakat.

Memang tidak ada orang yang dapat melarang Anda menyampaikan perasaan dan pemikiran Anda, tetapi pikirkan sedikitnya dua kali sebelum Anda mengekspos tulisan negatif maupun foto-foto vulgar/seksi Anda di jaringan media sosial.

Apabila ada hal-hal yang mengganggu perasaan/pikiran Anda, bicarakan hal ini dengan orang-orang terdekat (pasangan, sahabat, mungkin orangtua, keluarga lainnya) atau bahkan mencari bantuan dari luar (Orang yang dituakan/dihormati, konsultan, terapis) yang bisa membantu mencarikan jalan keluar sehingga masalah bisa diatasi.

Orangtua yang bijaksana, tidak mencurahkan hati (curhat) kepada anak yang belum dewasa, karena anak yang belum dewasa dapat mempunyai kesalahan persepsi, di mana nalar pikirannya belum dapat membedakan mana yang baik/ kurang baik. Sering sekali saya mendapati klien yang orangtuanya sering membicarakan masalah rumah tangga orang tuanya kepada anak di bawah umur karena mereka tidak tahu harus berbicara kepada siapa. Akibatnya adalah anak-anak ini dapat mempunyai kesalahan pandangan saat mereka besar. Contoh yang sering terjadi, seorang mama menceritakan keburukan suaminya kepada sang anak. Kecenderungannya tanpa disengaja, sang mama mencari simpati dari anaknya yang dapat mengakibatkan kemarahan/kekesalan/kebencian sang anak kepada papanya, yang dapat berimbas pengertian salah dalam dirinya setelah dewasa bahwa laki-laki tidak dapat dipercaya sehingga ia selalu mencurigai teman prianya/suaminya nanti yang dapat mengakibatkan keributan/ketidak-harmonisan dalam berumah tangga.

Janganlah memburukkan orang lain di jaringan sosial karena bisa menimbulkan kekesalan/kebencian/kemarahan kepada kelompok orang tertentu dan tentunya itu menimbulkan karma buruk bagi diri Anda sendiri yang akan kembali lagi kepada diri sendiri. Selain itu hal ini berhubungan dengan pelanggaran sila ke empat, yang berarti Saya menghindari ucapan bohong, ucapan kasar, ucapan yang memecah-belah kelompok/golongan, bergosip.

Apabila ada hal yang mengganggu pikiran/perasaan, sebaiknya dengarkan musik yang tenang/disuka; bermain musik; bernyanyi, mendengarkan rekaman paritta; membaca doa/paritta/buku yang bermanfaat; kalau sedih silakan menangis di kamar mandi (berlaku bagi pria dan wanita) bukan untuk berlarut-larut tetapi dapat melepaskan sebagian beban batin/pikiran; dapat melakukan meditasi; melatih pernapasan; berolah-raga; melakukan hobby; bermain dengan binatang peliharaan; pergi ke tempat yang disukai (alam pegunungan, taman atau bahkan tepi pantai; berdiskusi dengan orang yang dapat dipercaya, daripada menekan emosi yang dapat menyebabkan emosi tak terkendali/menjadi penyakit di badan jasmani. Saat kita tenang, pikiran kita terbuka dan kita dapat mengambil keputusan dengan lebih baik dan bijaksana.

Saran lainnya, usahakan tidak mendiskusikan permasalahan rumah tangga/pribadi dengan anggota Sangha, karena mereka tidak berumah tangga, jadi sebaiknya memberikan kesempatan kepada para anggota Sangha untuk dapat melatih batin mereka tanpa diganggu oleh hal-hal duniawi.

Hati-hatilah dengan kata-kata yang Anda sampaikan lewat Media Sosial. Saran saya, lebih baik kita tidak meng’update’ status dengan sesuatu yang negatif. Diam adalah emas. Tetapi apabila ada pemikiran dan ajakan baik dan positif, silakan sampaikan. Kita melakukan perbuatan baik dengan hal-hal yang baik dan positif.

Knowing how to communicate with others is the road to a happy life, Knowing how to communicate with yourself is the road to Bliss ! ~ Ellie Walsh

Mengetahui bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain adalah jalan menuju kehidupan yang berbahagia. Mengetahui bagaimana kita berkomunikasi dengan diri sendiri adalah jalan mencapai kebahagiaan.

Semoga artikel ini membantu para pembaca mengerti pikirannya dengan lebih baik sehingga selalu berusaha membawa pikiran, kata-kata, dan perbuatan kita selalu dalam keadaan positif, bermanfaat yang mengakibatkan kebahagiaan, ketentraman, dan kedamaian dalam kehidupan ini dan kehidupan mendatang.

Semoga semua makhluk turut berbahagia... Sadhu... sadhu... sadhu...