Dhanañjānī

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang berdiam di Rājagaha, di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai. Pada saat itu, isteri seorang brahmana dari suku Bhāradvāja, seorang brahmana perempuan bernama Dhanañjānī, berkeyakinan penuh pada Sang Buddha, Dhamma, dan Saṅgha.

Suatu hari, ketika brahmana perempuan Dhanañjāni sedang membawa makanan untuk suaminya, si brahmana, ia tersandung, lalu ia mengucapkan kata-kata inspiratif ini sebanyak tiga kali:

“Terpujilah Sang Bhagavā, Sang Arahanta, Yang Tercerahkan Sempurna! Terpujilah Sang Bhagavā, Sang Arahanta, Yang Tercerahkan Sempurna! Terpujilah Sang Bhagavā, Sang Arahanta, Yang Tercerahkan Sempurna!”

Ketika hal ini diucapkan, brahmana dari suku Bhāradvāja berkata kepadanya: “Karena hal sepele ini, perempuan celaka ini mengucapkan pujian kepada petapa gundul itu! Perempuan celaka, aku akan membantah ajaran dari Gurumu itu.”

“Aku tidak melihat siapa pun, Brahmana, di dunia ini dengan para Deva, Māra, dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para deva, dan manusia, yang dapat membantah ajaran Sang Bhagavā, Sang Arahanta, Tercerahkan Sempurna. Tetapi pergilah, Brahmana. Ketika Engkau pergi, Engkau akan memahami.”

Kemudian brahmana dari suku Bhāradvāja, marah dan tidak senang, mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau.

Ketika mereka telah menutup sapaan dan ramah tamah, ia lalu duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā dalam syair:

“Setelah membunuh apakah seseorang tidur dengan lelap? Setelah membunuh apakah seseorang tidak bersedih? Apakah satu hal, O, Gotama, Yang merupakan pembunuhan yang Engkau setujui?”

[Sang Bhagavā:] “Setelah membunuh kemarahan, seseorang tidur dengan lelap; Setelah membunuh kemarahan, seseorang tidak bersedih; Pembunuhan kemarahan, O, Brahmana, Dengan akar beracun dan pucuk bermadu: Ini adalah pembunuhan yang dipuji oleh para mulia, Karena setelah membunuh itu, seseorang tidak bersedih.”

Ketika hal ini diucapkan, brahmana dari suku Bhāradvāja berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Dhamma telah dibabarkan dalam berbagai cara oleh Guru Gotama, seperti menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama, dan kepada Dhamma, dan kepada Bhikkhu Saṅgha. Semoga aku menerima pelepasan keduniawian di bawah Guru Gotama, sudilah memberikan penahbisan yang lebih tinggi kepadaku.”

Kemudian brahmana dari suku Bhāradvāja menerima pelepasan keduniawian di bawah Sang Bhagavā, ia menerima penahbisan yang lebih tinggi. Dan segera, tidak lama setelah penahbisannya, berdiam sendirian, tidak berkomunikasi dengan orang lain, rajin, tekun, dan teguh, Yang Mulia Bhāradvāja, dengan mengalami oleh dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung dalam kehidupan ini juga akan tujuan yang tiada bandingnya dari kehidupan suci yang dicari oleh orang-orang yang meninggalkan keduniawian dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Ia secara langsung mengetahui: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi bagi kondisi makhluk ini.” Dan Yang Mulia Bhāradvāja menjadi salah satu dari para Arahanta.